PONTIANAK POST - Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memperkenalkan sistem sensor pintar di wilayah Mina. Teknologi ini terhubung langsung dengan kartu Nusuk untuk memantau pergerakan jemaah.
Sistem tersebut bekerja secara seketika (real-time) untuk mengatur arus manusia selama puncak haji. Saudi Press Agency melaporkan inovasi ini pada Sabtu (2/5) dikutip Antara.
Integrasi teknologi ini menjadi yang pertama dalam pengelolaan kerumunan haji secara digital.
Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi dan memperlancar pergerakan jamaah antar lokasi suci.
Sensor pintar ini juga memberikan analisis data akurat bagi pengambil kebijakan.
Hal ini sangat penting untuk mencegah kepadatan berlebih selama musim haji 1447 Hijriah.
Baca Juga: Wali Kota Pontianak Imbau Jemaah Haji Jaga Kesehatan dan Kekompakan Jelang Keberangkatan 2026
Manfaat Kartu Nusuk bagi Jemaah
Kartu Nusuk tersedia dalam format digital maupun cetak sebagai alat identifikasi utama. Alat ini memungkinkan verifikasi identitas jemaah secara cepat di lokasi suci dan Masjidil Haram.
Kementerian menghubungkan kartu ini ke platform izin terpadu untuk mempercepat waktu respons.
Layanan bagi jemaah pun menjadi lebih efisien dan terorganisasi dengan baik.
Di lapangan, petugas dapat mengidentifikasi data jemaah dengan lebih akurat melalui sistem ini.
Risiko jemaah tersesat dapat dikurangi karena akses ke tenda dan transportasi lebih terpantau.
Baca Juga: Jemaah Calon Haji Kota Pontianak Berangkat Awal Mei: Dibagi 4 Kloter, Ini Jadwalnya
Syarat Wajib Masuk Makkah
Kartu Nusuk kini telah didistribusikan di negara asal jemaah sebelum keberangkatan mereka.
Langkah ini merupakan bagian dari persiapan awal untuk menyambut jutaan tamu Allah.
Membawa dan mengaktifkan kartu Nusuk kini menjadi syarat wajib untuk memasuki Makkah.
Hal ini juga berlaku untuk akses ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Al-Rawdah Al-Sharifah.
Sistem digital ini dikembangkan setelah keberhasilan besar pada musim haji tahun lalu.
Saat itu, lebih dari 1,6 juta kartu telah dibagikan kepada jamaah dan petugas di lapangan.(*)
Editor : Uray Ronald