PONTIANAK POST – Presiden Donald Trump resmi meluncurkan "Project Freedom", sebuah misi militer untuk memandu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Jalur air vital ini terblokade sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari lalu.
Trump menyebut langkah ini sebagai gerakan kemanusiaan demi membantu negara-negara di dunia.
Sekitar 2.000 kapal dan 20.000 pelaut dilaporkan terjebak di kawasan Teluk dengan persediaan logistik yang kian menipis.
BBC melaporkan, implementasi Project Freedom langsung memicu gesekan bersenjata di lapangan.
Baca Juga: AS Luncurkan Operasi Pembebasan Kapal di Selat Hormuz, Iran Protes Keras Langgar Gencatan Senjata
Komando Pusat AS (Centcom) mengerahkan kapal penghancur rudal, ratusan pesawat, hingga 15.000 personel untuk mengawal jalur tersebut.
Dalam operasi perdana, helikopter serbu AS dilaporkan menenggelamkan tujuh kapal kecil Iran.
Centcom menegaskan tidak akan ragu menembak kapal mana pun yang menghalangi perlintasan internasional.
"Sebagai langkah pertama, 2 kapal dagang berbendera AS sudah berhasil melewati Selat Hormuz dan melanjutkan perjalanan dengan selamat," kata juru bicara Centcom.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: AS Serang 7 Kapal Cepat Iran dalam ‘Project Freedom’
Bantahan Keras dari Pihak Teheran
Iran merespons misi Project Freedom dengan ancaman balik yang tidak kalah agresif.
Kepala pusat komando Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan akan menyerang pasukan asing mana pun yang memasuki wilayah tersebut tanpa izin.
"Semua kapal militer asing, terutama miiter AS yang agresif," tegasnya.
Pihak Teheran juga membantah klaim AS mengenai keberhasilan pengawalan 2 kapal dagang. Mereka menyebut pernyataan Centcom sebagai informasi palsu.
"(Itu) tidak berdasar dan semuanya bohong," ujarnya.
Baca Juga: Kapal Tanker Raksasa Iran Lolos Blokade AS, Sempat Lewat Selat Lombok dan Kepri
Iran justru mengklaim telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal penghancur musuh.
Mereka juga menyampaikan peringatan keras jika masih ada pergerakan yang menentang instruksi angkatan laut Iran IRGC, maka akan menanggung akibatnya.
Nasib Kapal Sipil di Strait of Hormuz
Hingga kini, status keamanan kapal komersial di Selat Hormuz masih simpang siur.
Meski AS mengklaim dua kapal dagang berhasil melintas, data pelacakan kapal belum menunjukkan pergerakan yang signifikan.
Di sisi lain, risiko keamanan tetap tinggi bagi kapal-kapal dari negara sekutu AS.
UEA melaporkan salah satu tanker milik perusahaan negara, Adnoc, sempat menjadi sasaran serangan drone saat mencoba melintas.
Risiko Eskalasi Perang yang Lebih Luas
Para pakar memperingatkan bahwa Project Freedom bisa menjadi sumbu ledak konflik yang lebih besar. Misi ini dinilai sulit mencapai tujuan ekonominya.
Analis Grant Rumley menilai konflik terbuka hanya tinggal menunggu waktu.
Jika AS terus menggunakan opsi militer kinetik, stabilitas di Selat Hormuz akan semakin sulit diprediksi.*
Editor : Uray Ronald