PONTIANAK POST – Ledakan dahsyat melanda pabrik kembang api Huasheng di Kota Liuyang, Provinsi Hunan, China, pada Senin (4/5) sore.
Insiden tragis ini mengakibatkan 26 orang meninggal dunia dan 61 lainnya mengalami luka-luka.
Media pemerintah CCTV melaporkan bahwa ledakan terjadi pada pukul 16.43 waktu setempat.
Pihak berwenang segera mengevakuasi seluruh warga dalam radius 3 kilometer dari lokasi kejadian.
Lebih dari 1.500 petugas penyelamat diterjunkan ke lokasi untuk mencari korban.
Tim tersebut dibantu oleh anjing pelacak, drone, hingga robot penyelamat guna mempercepat proses.
Baca Juga: Serangan di Fujairah: Iran Bantah Targetkan Wilayah UEA Meski Ledakan Terjadi
Sebanyak tujuh orang berhasil diselamatkan setelah sempat terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Korban luka kini mendapatkan perawatan intensif karena mengalami patah tulang akibat terkena serpihan.
Dampak Kerusakan dan Reaksi Pemerintah
Daya hancur ledakan ini sangat besar hingga menghancurkan jendela gedung pemukiman di sekitar pabrik.
Seorang warga mengaku pintu besi rumahnya sampai tertekuk akibat kuatnya gelombang kejut.
"Kaca jendela pecah, bingkai jendela berubah bentuk, bahkan pintu baja tahan karat kami terpelintir," ujarnya dilansir BBC.
Presiden Xi Jinping langsung menginstruksikan upaya maksimal untuk menyelamatkan korban luka.
Baca Juga: Apa Itu Project Freedom? Misi Berisiko AS Kawal 2.000 Kapal di Selat Hormuz
Ia juga meminta investigasi mendalam guna menyeret pihak bertanggung jawab ke jalur hukum.
Investigasi Penyebab Ledakan
Polisi kini telah menahan jajaran staf yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan tersebut.
Petugas juga masih berjaga di sekitar gudang mesiu untuk mencegah potensi ledakan susulan.
Liuyang sendiri dikenal sebagai pusat manufaktur sekaligus produsen kembang api terbesar di dunia.
Kasus kecelakaan serupa kerap terjadi di China, termasuk ledakan di Hubei pada Februari lalu.(*)
Editor : Uray Ronald