PONTIANAK POST - Keamanan Selat Hormuz selalu menjadi perhatian dunia karena jalur ini merupakan urat nadi energi global. Konflik di wilayah ini memicu lonjakan harga minyak bumi secara drastis.
Menurut laporan terbaru BBC, Presiden AS Donald Trump tiba-tiba memutuskan untuk menangguhkan operasi militer Project Freedom di wilayah strategis tersebut.
Keputusan mengejutkan ini diambil hanya dua hari setelah ia mengumumkannya ke publik.
Sebelumnya, Trump mendeklarasikan operasi Project Freedom untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Melalui operasi ini, Trump mengklaim militer AS akan mengawal kapal-kapal niaga yang melintasi jalur tersebut.
Operasi diluncurkan karena pihak Teheran menutup Selat Hormuz sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah.
Baca Juga: Apa Itu Project Freedom? Misi Berisiko AS Kawal 2.000 Kapal di Selat Hormuz
Kronologi Peluncuran Project Freedom di Selat Hormuz
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak langsung pada pasokan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur laut sempit ini.
Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas memicu lonjakan harga minyak dunia.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran besar bagi perekonomian global.
Namun, hanya 50 jam setelah diumumkan, Trump menyatakan Project Freedom ditangguhkan.
Ia menyebut penangguhan operasi militer ini hanya untuk sementara waktu.
"Project Freedom akan ditangguhkan untuk waktu singkat," tulis Trump di media sosial Truth Social.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: AS Serang 7 Kapal Cepat Iran dalam ‘Project Freedom’
Trump pertama kali mengumumkan rencana pengawalan kapal niaga ini pada hari Minggu malam.
Ia menyebut langkah ini sebagai sebuah bentuk aksi kemanusiaan.
"Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terbatas ini," kata Trump di Truth Social miliknya.
Menurut asosiasi pelayaran BIMCO, sekitar 1.000 kapal saat ini terjebak di wilayah tersebut dengan jumlah awak sekitar 20.000 orang.
Trump meyakini bahwa langkah ini akan membuka peluang kesepakatan yang positif.
Ia mengeklaim perwakilannya sedang berdiskusi secara intensif dengan pihak Iran.
Senin: Dua Kapal Melintasi Selat Hormuz dan Kontak Senjata
Komando Sentral AS (Centcom) mengumumkan dukungannya pada Project Freedom sejak Senin dini hari.
Operasi ini melibatkan kapal perusak, ratusan pesawat, dan belasan ribu personel.
Pihak militer AS menyarankan kapal-kapal niaga melewati area aman di lepas pantai Oman. Area ini diawasi ketat oleh armada militer AS.
Pada hari pertama, Centcom mengklaim dua kapal berbendera AS berhasil melintas dengan aman.
Namun, situasi di lapangan ternyata masih sangat mencekam.
Baca Juga: AS Luncurkan Operasi Pembebasan Kapal di Selat Hormuz, Iran Protes Keras Langgar Gencatan Senjata
Trump mengeklaim militer AS berhasil menyerang tujuh kapal cepat milik militer Iran.
Sebaliknya, media Iran membantah klaim tersebut dan menyebut dua kapal kargo sipil yang terkena tembakan.
Selasa: Pejabat AS Unjuk Kekuatan Sebelum Penangguhan
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat menyatakan keyakinannya atas keberhasilan operasi militer ini.
Ia menegaskan bahwa ratusan kapal dari berbagai negara sudah mengantre untuk melintas.
"Project Freedom sedang berjalan, perdagangan akan mengalir, dan Amerika sekali lagi memimpin dengan kekuatan, kejelasan, dan tujuan demi kebaikan seluruh dunia. Tekad kami tidak tergoyahkan," tegas Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga mendukung penuh pernyataan tersebut di Gedung Putih.
Ia menyebut operasi militer ini sebagai bentuk bantuan AS untuk dunia.
Namun, beberapa jam setelah pernyataan optimistis para menteri tersebut, Trump justru menghentikan operasi.
Keputusan mendadak ini langsung mengubah arah kebijakan luar negeri AS.
Trump beralasan penangguhan dilakukan karena ada kemajuan pesat dalam negosiasi kesepakatan dengan Iran.
Di sisi lain, sebuah kapal milik Prancis dilaporkan baru saja diserang di selat tersebut.
Asosiasi pemilik kapal dan asuransi menilai Project Freedom tidak memberikan jaminan keamanan yang cukup.
Akibatnya, volume pelayaran di Selat Hormuz terus merosot tajam.*
Editor : Uray Ronald