PONTIANAK POST - Ketegangan di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa dari lingkaran utama pimpinan Hamas. Azzam al-Hayya, putra dari petinggi Hamas Khalil al-Hayya, mengembuskan napas terakhir pada Kamis (7/5) akibat luka parah yang dideritanya.
Luka tersebut didapat dari serangan udara Israel yang menyasar lingkungan Daraj di timur Kota Gaza pada Rabu malam. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh koresponden Anadolu setelah kondisi Azzam terus memburuk pasca-ledakan.
Dilaporkan Anadolu, sebelum wafat, Khalil al-Hayya sempat menyatakan bahwa putranya terluka kritis dalam serangan brutal tersebut.
Ia menuduh Israel sengaja melakukan aksi teror dan pembunuhan untuk mencapai tujuan politik mereka melalui tekanan militer.
Rekaman video dari Kota Gaza memperlihatkan para pelayat membawa jenazah Azzam dari Rumah Sakit Al-Shifa menuju tempat pemakaman.
Menurut sumber Palestina, Azzam adalah putra keempat Khalil yang tewas dalam operasi militer Israel selama konflik berlangsung.
Baca Juga: Prajurit Israel Lecehkan Patung Bunda Maria di Lebanon Selatan, Dunia Mengecam
Serangan Israel Terjang Beirut dan Targetkan Hizbullah
Di saat yang hampir bersamaan, militer Israel juga mengonfirmasi adanya serangan udara di ibu kota Lebanon, Beirut. Operasi tersebut diklaim berhasil menewaskan Ahmed Balout, sosok yang disebut sebagai komandan Pasukan Radwan milik Hizbullah.
Israel menyebut Balout tewas dalam serangan di pinggiran selatan Beirut pada Rabu waktu setempat.
Hingga saat ini, pihak Hizbullah belum memberikan pernyataan resmi atau komentar mengenai klaim pembunuhan komandan tempur mereka tersebut.
Baca Juga: Serangan Udara Israel Hantam Lebanon Selatan di Tengah Perpanjangan Gencatan Senjata
Pelanggaran Kesepakatan Gencatan Senjata
Rangkaian serangan di Gaza dan Beirut ini menandai adanya eskalasi baru yang melanggar kesepakatan gencatan senjata di kedua wilayah. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya pertempuran skala besar yang lebih luas di kawasan tersebut.
Warga sipil di Gaza City kini terus waspada seiring meningkatnya intensitas serangan udara dalam beberapa hari terakhir. Fokus internasional kini tertuju pada kelanjutan dialog perdamaian yang tampak semakin rapuh akibat insiden-insiden berdarah ini.*
Editor : Uray Ronald