PONTIANAK POST - Ketegangan di Lebanon kembali memuncak setelah serangkaian serangan udara dan drone Israel menewaskan sedikitnya 16 orang pada Rabu (6/5).
Serangan yang menyasar wilayah selatan dan timur Lebanon ini juga melukai 21 orang lainnya. Aksi militer ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang seharusnya berlaku hingga 17 Mei mendatang.
Selain menelan korban jiwa, serangan tersebut juga merusak fasilitas publik, termasuk gedung sekolah di wilayah Burj Qallawiyeh.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan dua orang tewas dalam serangan drone di Kota Mefdoun.
Sementara itu, empat orang lainnya gugur dalam serangan yang menghantam rumah seorang kepala dewan kota di Zellaya, Bekaa Barat.
Di wilayah Saksakiyeh, distrik Zahrani, serangan udara Israel menyebabkan jatuhnya banyak korban. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi empat orang tewas dan 33 lainnya luka-luka, termasuk enam anak-anak dan empat perempuan.
Baca Juga: Putra Pemimpin Hamas Meninggal Dunia Akibat Serangan Israel di Gaza
Berdasarkan laporan Anadolu, kekejaman serangan kali ini juga menyasar para petugas kemanusiaan di lapangan. Sebuah drone Israel menargetkan paramedis dari Otoritas Kesehatan Islam di kota Deir Kifa yang melukai tiga petugas medis.
Kerusakan infrastruktur sipil juga dilaporkan cukup parah di beberapa titik. Pesawat tempur Israel menghancurkan sebuah rumah tinggal di lingkungan Bir Zbib serta merusak bangunan Sekolah Menengah Al-Siraj di jalan al-Haddathiya.
Data Korban dan Dampak Krisis Lebanon
Sejak eskalasi meningkat pada 2 Maret lalu, serangan Israel di Lebanon telah merenggut sedikitnya 2.715 nyawa. Total korban luka mencapai 8.353 orang, sementara 1,6 juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Baca Juga: Prajurit Israel Lecehkan Patung Bunda Maria di Lebanon Selatan, Dunia Mengecam
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan sejak 17 April, penghancuran rumah warga secara luas terus terjadi di puluhan desa. Kondisi ini kian memperparah krisis kemanusiaan yang telah melanda seperlima penduduk Lebanon tersebut.*
Editor : Uray Ronald