PONTIANAK POST – Israel dilaporkan telah membangun pangkalan militer rahasia di wilayah gurun Irak.
Fasilitas tersembunyi ini berfungsi sebagai pusat logistik untuk mendukung operasi udara jarak jauh terhadap Iran.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan pangkalan ini dibangun dengan sepengetahuan Amerika Serikat sesaat sebelum perang pecah.
Pasukan khusus Israel menggunakan lokasi tersebut sebagai titik koordinasi serangan dan tim penyelamat pilot.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Pulih Total Usai Serangan AS-Israel di Teheran
Upaya Irak Membongkar Markas
Keberadaan pangkalan ini hampir terungkap pada awal Maret setelah seorang penggembala melaporkan aktivitas militer mencurigakan.
Media pemerintah Irak menyebutkan adanya pergerakan helikopter yang memicu militer Irak melakukan investigasi ke lokasi.
Namun, militer Israel merespons dengan serangan udara untuk menghalau pasukan Irak yang mendekati situs rahasia tersebut.
Serangan ini menewaskan seorang tentara Irak dan memicu kecaman keras dari pemerintah setempat.
Baca Juga: Gencatan Senjata Dilanggar Lagi, Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 16 Orang
Ketegangan Diplomatik dan Militer
Wakil Komandan Komando Operasi Gabungan Irak, Qais Al-Muhammadawi, menyebut tindakan tersebut sebagai operasi nekat.
“Operasi ini dilakukan tanpa koordinasi atau persetujuan resmi,” tegasnya kepada media pemerintah Irak dikutip Anadolu.
Meskipun pangkalan ini disiapkan untuk misi penyelamatan, tim tersebut tidak pernah digunakan.
Israel sempat menawarkan bantuan saat jet F-15 AS jatuh di Isfahan, namun militer AS berhasil menyelamatkan kru secara mandiri.
Baca Juga: Putra Pemimpin Hamas Meninggal Dunia Akibat Serangan Israel di Gaza
Konteks Perang Regional
Ketegangan di kawasan ini meledak sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Hal ini memicu balasan dari Teheran terhadap sekutu Amerika di Teluk dan penutupan Selat Hormuz.
Hingga saat ini, pihak militer Israel menolak memberikan komentar resmi terkait laporan pangkalan rahasia tersebut.
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April pun masih berada dalam posisi yang sangat rapuh.*
Editor : Uray Ronald