PONTIANAK POST – Otoritas Iran dilaporkan menggunakan strategi "armada nyamuk" untuk mengendalikan kawasan strategis Selat Hormuz. Strategi ini melibatkan ratusan hingga ribuan kapal kecil untuk menjaga pengaruh mereka di wilayah perairan tersebut.
Laporan Financial Times pada Minggu (10/5) menyebutkan bahwa kekuatan ini menjadi tumpuan utama Teheran. Para ahli menilai armada ini sangat efektif dalam melakukan pengawasan dan pengendalian jalur laut.
Armada ini terdiri dari sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir. Selain itu, Iran menyiagakan ribuan kapal cepat yang dilengkapi rudal serta kapal serang untuk menghadapi potensi ancaman.
Beberapa kapal memang hanya dipersenjatai ringan untuk mobilitas tinggi. Namun, banyak unit lainnya telah dilengkapi dengan rudal jarak pendek yang mematikan bagi kapal-kapal besar.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Memanas: Teheran Ancam Perluas Medan Tempur Baru
Kombinasi Rudal dan Drone IRGC
Kekuatan permukaan ini bekerja sinergis dengan persenjataan rudal dan drone milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kombinasi tersebut menciptakan ancaman nyata bagi kapal asing yang melintasi Selat Hormuz.
Iran menggunakan taktik produksi massal kapal buatan dalam negeri yang murah namun efektif. Selain model sederhana, mereka juga mulai mengoperasikan model-model yang jauh lebih canggih.
Peran Sentral Pasca Gencatan Senjata
"Armada nyamuk" tetap memegang peran sentral meskipun permusuhan fisik dengan AS dan Israel telah mereda. Kekuatan ini menjadi alat tawar politik dan militer Iran di tengah situasi kawasan yang belum stabil.
Sebelumnya, konflik terbuka pecah pada 28 Februari lalu yang menelan ribuan korban jiwa. Meski gencatan senjata disepakati pada 8 April, tensi tetap tinggi akibat kebijakan blokade pelabuhan.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Pulih Total Usai Serangan AS-Israel di Teheran
Situasi Blokade dan Diplomasi di Islamabad
Hingga saat ini, Amerika Serikat masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Langkah ini diambil menyusul kegagalan pembicaraan lanjutan yang dimediasi di Islamabad, Pakistan.
Walaupun blokade berlangsung ketat, belum ada laporan mengenai dimulainya kembali kontak senjata secara terbuka. Para mediator internasional terus berupaya mencari jalan tengah untuk mendinginkan suasana di Teluk Persia.(ant)
Editor : Uray Ronald