PONTIANAK POST – Tim SAR Malaysia terus melakukan pencarian intensif terhadap 14 warga negara Indonesia (WNI) yang hilang setelah kapal mereka tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Senin (11/5).
Kapal tersebut diduga mengangkut pekerja migran nonprosedural. Total penumpang berjumlah 37 orang,
Direktur Maritim Perak, Kapten Mohamad Shukri Khotob, mengatakan kelompok WNI ini berasal dari Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Indonesia.
Mereka berangkat pada 9 Mei lalu menggunakan kapal tradisional.
Mereka diduga menuju beberapa wilayah di Malaysia seperti Penang, Selangor, hingga Kuala Lumpur untuk mencari pekerjaan.
Insiden ini terungkap setelah nelayan lokal menemukan para korban terapung di tengah laut.
Baca Juga: Kapal WNI Tenggelam di Malaysia: 23 Orang Selamat, 14 Masih Hilang
Laporan diterima otoritas setempat pada pukul 05.30 pagi, yang langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan unit KM Gagah dan Benteng 1203 ke lokasi.
"Nelayan berhasil menyelamatkan 23 korban, terdiri dari 16 pria dan tujuh wanita yang semuanya warga negara Indonesia," ujar Shukri, Selasa (12/5) dilansir New Strait Times.
Di area pencarian, petugas juga menemukan tiga tas berisi pakaian yang diduga kuat milik para penumpang kapal yang nahas tersebut.
"Hingga saat ini belum ada temuan baru, namun kami tetap berkomitmen melakukan pencarian hingga seluruh korban ditemukan," tegas Shukri.
Mereka yang selamat kini telah dibawa ke Dermaga Polis Marin Kampung Acheh untuk pendataan dan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.
Operasi SAR Besar-besaran
Operasi penyelamatan ini melibatkan berbagai aset militer, termasuk kapal perang KD Sri Indera Sakti dan helikopter Fennec milik Angkatan Laut Malaysia.
Pesawat Bombardier CL-415 milik MMEA juga dikerahkan untuk melakukan pemantauan dari udara guna mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban.
Baca Juga: Kapal WNI Tenggelam di Malaysia: Kemlu Pantau Pencarian 14 Korban Hilang
Malaysia memang menjadi tujuan utama bagi pekerja asal Indonesia, meski banyak yang menempuh jalur laut berbahaya dengan kapal yang tidak layak.
Kecelakaan ini menambah panjang daftar musibah yang menimpa para pekerja migran yang mencoba masuk ke Malaysia melalui rute ilegal.(*)
Editor : Uray Ronald