Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hindari Risiko Selat Hormuz, UEA Percepat Pembangunan Jalur Pipa Minyak Baru

Antara • Jumat, 15 Mei 2026 | 22:56 WIB
Ilustrasi. (Shutterstock)
Ilustrasi. (Shutterstock)

 

PONTIANAK POST – Uni Emirat Arab (UEA) resmi mempercepat pembangunan jalur pipa minyak baru yang melintasi Selat Hormuz. Proyek strategis ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 untuk menjamin keamanan pasokan energi global.

Langkah tersebut diputuskan dalam rapat Komite Eksekutif ADNOC yang dipimpin oleh Khaled bin Mohamed bin Zayed. Jalur Pipa Barat-Timur ini dirancang untuk menggandakan kapasitas ekspor ADNOC melalui terminal Fujairah.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia. Namun, meningkatnya ketegangan regional memicu kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap ketergantungan pada jalur tersebut.

Gangguan di selat ini dinilai mengancam stabilitas ekspor energi. Oleh karena itu, para pejabat dan pelaku industri kini meninjau kembali opsi jalur alternatif yang sebelumnya dianggap terlalu mahal.

Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Selalu Terbuka, Araghchi: Hanya Tertutup Bagi Musuh!

Keunggulan Jalur Pipa Timur-Barat

Selain UAE, Arab Saudi juga mengandalkan pipa Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut rute ini sebagai jalur utama yang sedang dikembangkan kapasitasnya.

Krisis saat ini menegaskan nilai strategis infrastruktur darat. Para eksekutif energi menilai langkah pembangunan jalur pipa ini sebagai keputusan jenius di tengah ketidakpastian keamanan maritim.

Baca Juga: Pertemuan AS-China: Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Terbuka

Tantangan Biaya dan Keamanan

Meskipun mendesak, pembangunan infrastruktur pipa baru menghadapi kendala finansial yang besar. Pembangunan ulang pipa Timur-Barat diperkirakan menelan biaya sedikitnya 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp85 triliun.

Rute yang lebih kompleks melalui Irak atau Yordania bahkan bisa memakan biaya hingga 20 miliar dolar AS. Selain kendala teknis di wilayah gurun, risiko keamanan dari kelompok militan masih menjadi tantangan serius.

Baca Juga: Kapal China Santai Lintasi Selat Hormuz Saat Trump Bertemu Xi Jinping

Ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel di Selat Hormuz telah mengganggu aliran energi global. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak, biaya pengiriman, hingga premi asuransi kapal.

Sejak Maret lalu, Iran mulai membatasi navigasi di jalur pelayaran tersebut. Mereka juga memperingatkan akan menindak kapal yang melintas tanpa izin, yang semakin memicu urgensi jalur pipa alternatif.(ant)

 

Editor : Uray Ronald
#Ekspor Minyak #ADNOC #keamanan energi. #selat hormuz #uni emirat arab