Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Trump Klaim Damai AS-Iran Hampir Final, Gejolak Dunia Berakhir?

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 24 Mei 2026 | 21:38 WIB
Donald Trump unggah foto AI menggenggam senjata sembari mengancam Iran. (Truth Social/Donald Trump)
Donald Trump unggah foto AI menggenggam senjata sembari mengancam Iran. (Truth Social/Donald Trump)

 

PONTIANAK POST — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran hampir selesai dinegosiasikan. Pernyataan tersebut memunculkan harapan meredanya konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran sejak Februari lalu.

Dalam unggahan di media sosialnya pada Sabtu (24/5), Trump menyebut sebagian besar isi nota kesepahaman telah disepakati. Menurut dia, para pihak kini hanya menyelesaikan rincian akhir sebelum pengumuman resmi dilakukan.

“Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lainnya,” tulis Trump.

Trump juga mengisyaratkan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam kesepakatan tersebut. Jalur pelayaran strategis itu selama berbulan-bulan menjadi pusat ketegangan akibat perang dan blokade yang mengganggu perdagangan energi global.

Optimisme dari Washington langsung mendapat respons berbeda dari Teheran. Kantor berita Fars, yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menegaskan pengelolaan Selat Hormuz tetap sepenuhnya berada di bawah kewenangan Iran.

Media tersebut bahkan menyebut klaim Trump mengenai kesepakatan yang hampir final tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi negosiasi di lapangan.

Perbedaan pandangan itu menunjukkan proses diplomasi masih menghadapi sejumlah hambatan, terutama terkait isu keamanan kawasan dan pengaruh strategis Iran di jalur energi internasional.

Di tengah ketegangan tersebut, upaya mediasi internasional terus berlangsung. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan apresiasi terhadap langkah diplomatik Trump dan berharap Pakistan dapat menjadi tuan rumah putaran perundingan berikutnya antara AS dan Iran.

Sharif mengatakan komunikasi Trump dengan pemimpin Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Pakistan berlangsung produktif.

Pakistan disebut menjadi salah satu mediator utama dalam proses diplomasi tersebut. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Syed Asim Munir, juga dilaporkan aktif menjembatani komunikasi dengan Teheran.

Sejumlah laporan media internasional menyebut draf kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta dimulainya kembali negosiasi program nuklir Iran dalam 30 hingga 60 hari mendatang.

Pembukaan Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak global. Gangguan di kawasan itu sebelumnya memicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian ekonomi internasional.

Potensi tercapainya kesepakatan damai AS-Iran dinilai dapat mengurangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang selama beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran pasar global.

Selain berpengaruh terhadap harga minyak dunia, stabilitas kawasan juga dinilai penting bagi keamanan pelayaran internasional, perdagangan energi, dan pemulihan ekonomi global yang masih rentan terhadap konflik geopolitik.

Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai isi final kesepakatan maupun jadwal penandatanganan antara pihak-pihak terkait. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#AS Iran #selat hormuz #program nuklir iran #perang timur tengah #donald trump