Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Langkah Maju Rekonsiliasi: AS dan Iran Sepakati Draf Awal Pembukaan Selat Hormuz

Antara • Senin, 25 Mei 2026 | 10:53 WIB
Ilustrasi - Selat Hormuz. (ANTARA)
Ilustrasi - Selat Hormuz. (ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Angin segar berembus bagi stabilitas ekonomi dunia yang sempat tercekik krisis energi.

Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah menyepakati sebuah kesepakatan perdamaian awal.

Salah satu poin krusialnya adalah membuka kembali secara penuh jalur pelayaran Selat Hormuz dalam waktu 30 hari ke depan.

Kabar baik ini pertama kali dirilis oleh Washington Post, Senin (25/5), dengan mengutip pernyataan seorang diplomat senior yang menolak disebutkan namanya.

Langkah taktis ini menjadi titik balik kemanusiaan yang sangat dinantikan oleh miliaran penduduk bumi, guna memulihkan rantai pasok komoditas global yang sempat lumpuh akibat konflik bersenjata.

Baca Juga: Redakan Krisis Global, Korps Garda Revolusi Islam Izinkan 33 Kapal Komersial Lintasi Selat Hormuz

Gencatan Senjata Diperpanjang 60 Hari demi Keadilan dan Kemanusiaan

Selain pemulihan jalur maritim, kedua belah pihak juga setuju untuk melakukan perpanjangan gencatan senjata 60 hari mendatang.

Perpanjangan waktu ini dinilai sangat krusial guna memberikan ruang diplomasi yang jernih bagi kedua negara dalam menyusun draf penyelesaian konflik secara permanen.

Kendati demikian, seorang pejabat Iran membisikkan bahwa kerangka dokumen kesepakatan awal ini sejatinya masih terus digodok dan belum ditandatangani secara resmi oleh pihak Teheran.

Baca Juga: Hindari Risiko Selat Hormuz, UEA Percepat Pembangunan Jalur Pipa Minyak Baru

Sebagai bagian dari kompromi politik demi meredakan ketegangan, kedua negara juga sepakat untuk menunda perundingan nuklir hingga waktu yang belum ditentukan.

"Fokus utama saat ini adalah menghentikan penderitaan ekonomi masyarakat dunia akibat perang," ujar sumber diplomatik tersebut dalam laporan koran AS itu.

Kronologi Konflik: Dari Serangan Militer hingga Diplomasi Islamabad

Prahara kemanusiaan di Timur Tengah ini pertama kali pecah pada 28 Februari lalu, ketika militer AS dan Israel melancarkan operasi serangan udara bersama ke wilayah Iran.

Serangan tersebut memicu kerusakan infrastruktur yang parah serta jatuhnya korban dari kalangan warga sipil yang tidak berdosa.

Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Selalu Terbuka, Araghchi: Hanya Tertutup Bagi Musuh!

Sebagai bentuk pertahanan diri, Iran membalas dengan menggempur fasilitas militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut. 

Eskalasi ini berujung pada terjadinya blokade energi maritim secara de facto di Selat Hormuz, yang menghentikan jalur distribusi minyak mentah dan pengiriman gas alam cair ke pasar internasional.

Dampak Masif Terhadap Harga Bahan Bakar Global

Sumbatnya urat nadi perdagangan di Teluk Persia ini langsung memicu efek domino yang menyengsarakan masyarakat dunia.

 Sebagian besar negara di berbagai belahan benua mengalami lonjakan drastis pada harga bahan bakar global serta pembengkakan biaya produksi barang-barang industri.

Melalui kesepakatan awal ini, harapan akan turunnya beban hidup masyarakat kelas pekerja kembali terbuka lebar.

Pembukaan selat secara bertahap diharapkan dapat menormalkan kembali volume ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke pasar dunia.(ant)

Editor : Uray Ronald
#kesepakatan perdamaian awal #pembukaan Selat Hormuz #ketegangan AS dan Iran #harga bahan bakar global #gencatan senjata 60 hari.