PONTIANAK POST - Iran menyatakan blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhannya masih berlangsung meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan pencabutan pembatasan tersebut.
Klaim itu disampaikan pelaut Iran yang dikutip Tasnim News Agency pada Sabtu (30/5), di tengah berlanjutnya ketegangan pasca-konflik militer antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.
Menurut laporan Tasnim, kapal-kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran masih menerima peringatan penghentian dan penolakan melintas dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai implementasi kebijakan yang diumumkan Washington terkait pelonggaran blokade maritim.
Baca Juga: Langkah Maju Rekonsiliasi: AS dan Iran Sepakati Draf Awal Pembukaan Selat Hormuz
Iran Sebut Kapal Masih Dihentikan oleh CENTCOM
Pelaut Iran yang dikutip media Tasnim menyatakan bahwa blokade laut AS belum dicabut secara efektif.
Mereka mengaku kapal-kapal yang beroperasi di kawasan strategis masih menerima instruksi penghentian dan larangan melintas dari otoritas militer Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Presiden Donald Trump mengunggah pesan di platform Truth Social yang menyebut blokade laut terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran akan dicabut.
Trump juga menyatakan bahwa Iran harus terlebih dahulu membersihkan ranjau yang masih tersisa di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Washington akan mengakhiri pembatasan maritim yang diberlakukan terhadap aktivitas pelayaran Iran.
"Kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz akibat blokade laut yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya kini dapat memulai proses untuk kembali pulang," tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga: Redakan Krisis Global, Korps Garda Revolusi Islam Izinkan 33 Kapal Komersial Lintasi Selat Hormuz
Namun hingga Sabtu, laporan dari Iran menunjukkan belum ada perubahan signifikan di lapangan terkait akses kapal menuju pelabuhan negara tersebut.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Tuding AS Tidak Serius Berdiplomasi
Pernyataan lebih keras datang dari penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Ia menuduh Amerika Serikat telah mengkhianati proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Melalui unggahan di media sosial X, Rezaei menyatakan bahwa Presiden AS kembali menunjukkan ketidaksiapan untuk mencapai solusi politik.
"Seperti yang diperkirakan, Presiden Amerika Serikat mengkhianati diplomasi untuk ketiga kalinya," tulisnya.
Menurut Rezaei, keberlanjutan blokade laut serta tuntutan yang dinilai berlebihan dalam proses negosiasi membuktikan bahwa Washington memiliki tujuan lain di luar penyelesaian damai konflik.
Pernyataan tersebut memperlihatkan masih lebarnya jurang perbedaan pandangan antara kedua negara meskipun berbagai upaya mediasi terus dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Hindari Risiko Selat Hormuz, UEA Percepat Pembangunan Jalur Pipa Minyak Baru
Ketegangan Bermula dari Serangan Militer dan Penutupan Selat Hormuz
Ketegangan kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk.
Sebagai bagian dari respons strategisnya, Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu koridor energi terpenting dunia.
Data industri energi menunjukkan sekitar seperlima perdagangan minyak global biasanya melewati perairan tersebut, sehingga setiap gangguan di kawasan ini langsung memengaruhi pasar internasional.
Baca Juga: Xi-Putin Kecam AS, Trump Dinilai Bawa Dunia Masuki Hukum Rimba
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Meski demikian, proses negosiasi lanjutan mengalami kebuntuan.
Pada 13 April, Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, termasuk yang berada di sepanjang Selat Hormuz. Langkah itu menjadi salah satu isu utama yang hingga kini masih diperdebatkan kedua pihak.
Upaya Mediasi Masih Berlangsung
Meski saling melontarkan tuduhan, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Sejumlah pihak, termasuk Pakistan, masih berupaya memediasi perbedaan antara Washington dan Teheran guna mencegah konflik yang lebih luas.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Ajukan Tawaran untuk Akhiri Konflik, AS Kirim Utusan untuk Nego di Pakistan
Analis geopolitik menilai status blokade laut akan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan negosiasi berikutnya.
Jika pembatasan maritim benar-benar dicabut, hal itu dapat menjadi sinyal positif menuju normalisasi hubungan dan stabilitas kawasan.
Sebaliknya, jika laporan Iran mengenai masih berjalannya blokade terbukti benar, maka ketegangan diplomatik berpotensi kembali meningkat dan memengaruhi keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.*
Editor : Uray Ronald