PONTIANAK POST - Iran menegaskan bahwa belum ada kesepakatan akhir dengan Amerika Serikat, meski komunikasi tidak langsung antara kedua negara masih berlangsung.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pertukaran pesan terus dilakukan, namun hingga kini belum tercapai pemahaman final terkait berbagai isu yang menjadi sumber ketegangan antara Teheran dan Washington.
Iran Sebut Negosiasi dengan AS Belum Mencapai Titik Akhir
Dalam wawancara televisi yang disiarkan stasiun televisi pemerintah Iran pada Jumat (29/5) malam waktu setempat, Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa pembicaraan belum menghasilkan kesepakatan.
Menurut Baqaei, Teheran tetap mempertahankan prinsip kedaulatan nasional dalam setiap proses diplomatik. Ia menolak pendekatan yang menurutnya memaksakan kehendak kepada Iran.
"Pertukaran pesan masih berlangsung, tetapi pemahaman final belum tercapai," kata Baqaei dilansir IRNA.
Baca Juga: AS Rampas Aset Kripto Iran Senilai US$1 Miliar, Perluas Penyitaan Properti di Eropa
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap hubungan Iran-AS yang kembali memanas akibat konflik regional, isu nuklir, serta sengketa terkait aktivitas maritim di kawasan Teluk.
Iran Tolak Klaim AS Soal Blokade Laut dan Pelanggaran Pelayaran
Baqaei juga menanggapi klaim Amerika Serikat mengenai blokade terhadap aktivitas maritim Iran. Ia menyebut langkah tersebut ilegal dan bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi internasional.
Menurut Iran, tindakan yang dilakukan Washington telah melanggar ketentuan gencatan senjata dan mengganggu lalu lintas pelayaran internasional.
Teheran menyatakan akan menilai berdasarkan tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar pernyataan politik.
"Kita harus melihat dalam praktik apakah mereka benar-benar melakukan apa yang mereka katakan atau hanya sekadar propaganda," ujar Baqaei.
Ia menambahkan bahwa penghentian tindakan yang dianggap melanggar hukum internasional seharusnya dilakukan sejak awal dan tidak perlu menunggu tekanan diplomatik lebih lanjut.
Baca Juga: Iran Sebut Blokade Laut AS di Selat Hormuz Masih Berlangsung, Tuding Washington Khianati Diplomasi
Selat Hormuz Tetap Terbuka untuk Kapal Komersial
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui kapal-kapal komersial meskipun terdapat pembatasan terhadap kapal militer atau pihak yang dianggap bermusuhan.
Menurut Baqaei, lalu lintas perdagangan internasional melalui jalur strategis tersebut masih berlangsung dengan koordinasi bersama otoritas Iran.
Pernyataan ini penting mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Baca Juga: Trump Klaim Damai AS-Iran Hampir Final, Gejolak Dunia Berakhir?
Data dari berbagai lembaga energi internasional menunjukkan sekitar seperlima perdagangan minyak global biasanya melewati Selat Hormuz setiap hari.
Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dunia dan stabilitas rantai pasok internasional.
Baqaei menambahkan bahwa pengelolaan jangka panjang Selat Hormuz merupakan urusan negara-negara pesisir yang berbatasan langsung dengan perairan tersebut, terutama Iran dan Oman.
Baca Juga: Langkah Maju Rekonsiliasi: AS dan Iran Sepakati Draf Awal Pembukaan Selat Hormuz
Iran Fokus pada Pengakhiran Konflik, Belum Bahas Isu Pengayaan Uranium
Terkait program nuklir Iran, Baqaei mengatakan pemerintah saat ini lebih memprioritaskan upaya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung dibandingkan membahas isu teknis mengenai pengayaan uranium.
Ia menolak memberikan komentar rinci mengenai tingkat pengayaan uranium maupun cadangan uranium yang dimiliki Iran.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa isu keamanan dan konflik regional masih menjadi fokus utama Teheran dalam tahap diplomasi saat ini.
Pernyataan terbaru Iran muncul ketika perhatian dunia tertuju pada perkembangan hubungan Teheran-Washington, termasuk dampaknya terhadap keamanan Timur Tengah, stabilitas pasar energi global, serta masa depan negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Dengan belum tercapainya kesepakatan final, proses komunikasi antara kedua negara diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. *
Editor : Uray Ronald