Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

33 Warga Palestina Tewas Ditembak Israel Saat Iduladha, Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk

Uray Ronald • Senin, 1 Juni 2026 | 12:01 WIB
Tim penyelamat bekerja di dekat sebuah pemukiman warga yang menjadi sasaran serangan udara Israel di malam Iduladha di pusat Kota Gaza, Palestina, Rabu (27/5/2026). (ANTARA/Xinhua)
Tim penyelamat bekerja di dekat sebuah pemukiman warga yang menjadi sasaran serangan udara Israel di malam Iduladha di pusat Kota Gaza, Palestina, Rabu (27/5/2026). (ANTARA/Xinhua)

 

PONTIANAK POST - Sebanyak 33 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 130 orang lainnya terluka akibat serangan dan tembakan pasukan Israel di Jalur Gaza selama libur Idul Adha 28-31 Mei 2026.

Selain jumlah korban yang terus meningkat, laporan Antara juga menyebutkan bahwa rumah sakit di Gaza pun kini menghadapi ancaman penutupan akibat krisis listrik yang semakin parah.

Data terbaru yang dirilis otoritas kesehatan Gaza pada Minggu (1/6) menunjukkan konflik yang terus berlangsung telah memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Banyak korban dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, sementara akses tim penyelamat dan ambulans ke lokasi terdampak tetap sangat terbatas.

Korban Konflik Gaza Terus Bertambah

Otoritas kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 kini mencapai 72.939 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 172.927 orang.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa proses evakuasi korban masih menghadapi hambatan besar.

Baca Juga: Uni Eropa Kecam Netanyahu Soal Rencana Kuasai 70% Gaza, Krisis Kemanusiaan Memburuk

Sejumlah warga yang menjadi korban serangan belum dapat dijangkau karena kondisi medan yang berbahaya dan kerusakan infrastruktur yang luas.

Situasi ini memperpanjang penderitaan warga sipil yang selama berbulan-bulan hidup di tengah serangan, pengungsian, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan kebutuhan dasar.

Rumah Sakit Al-Aqsa Terancam Tutup Akibat Krisis Listrik

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin mengkhawatirkan setelah Direktur Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, Raed Hussein, memperingatkan kemungkinan penghentian operasional rumah sakit dalam waktu dekat.

Dalam konferensi pers yang digelar di rumah sakit tersebut, Hussein menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan itu menghadapi krisis listrik serius setelah generator utama maupun generator cadangan mengalami gangguan.

Menurutnya, dampak krisis energi mulai dirasakan langsung pada unit-unit vital rumah sakit, terutama ruang operasi yang menjadi penopang utama layanan bagi korban luka akibat konflik.

Ancaman berhentinya layanan kesehatan ini berpotensi meningkatkan angka kematian karena banyak pasien kritis bergantung pada peralatan medis yang memerlukan pasokan listrik stabil.

Baca Juga: Pep Guardiola: Kisah Pelatih yang Tak Pernah Diam Melawan Genosida Gaza

Kisah Imad Ishtayeh, Tewas Saat Berupaya Mencari Nafkah

Di tengah situasi yang terus memanas, seorang warga Palestina bernama Imad Ishtayeh (26) dilaporkan meninggal dunia setelah ditembak pasukan Israel di dekat penghalang pemisah al-Ram, utara Yerusalem.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan Ishtayeh merupakan warga Desa Salem, wilayah timur Nablus. Ia meninggal akibat luka tembak yang dideritanya setelah insiden tersebut.

Sumber-sumber lokal menyebut Ishtayeh saat itu berusaha melintasi pagar pemisah untuk bekerja di wilayah Israel. Langkah tersebut dilakukan demi memperoleh penghasilan guna menghidupi keluarganya.

Peristiwa itu menjadi gambaran nyata dampak konflik yang tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menghantam kehidupan ekonomi masyarakat sipil yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah ketidakpastian.

Baca Juga: Sempat Ditahan Israel, Seluruh Aktivis Flotilla Gaza Akhirnya Dibebaskan

Tekanan Kemanusiaan Meningkat Saat Hari Raya

Libur Idul Adha yang seharusnya menjadi momentum kebersamaan dan perayaan bagi umat Muslim berubah menjadi masa berkabung bagi banyak keluarga di Gaza.

Selain kehilangan anggota keluarga akibat serangan, ribuan warga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, listrik, air bersih, serta bantuan kemanusiaan.

Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan fasilitas kesehatan yang berada di ambang kolaps, berbagai organisasi kemanusiaan internasional terus menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta akses bantuan yang lebih luas ke wilayah Gaza.*

Editor : Uray Ronald
#Krisis kemanusiaan Gaza #korban sipil Gaza #Israel #gaza #palestina