Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

China Kirim Bantuan Medis ke DRC di Tengah Wabah Ebola yang Meluas, WHO dan MSF Soroti Lonjakan Kasus dan Keterbatasan Respons Global

Basilius Andreas Gas • Selasa, 2 Juni 2026 | 09:13 WIB
Seorang petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri sebelum mengangkut jenazah seseorang yang meninggal karena diduga terinfeksi Ebola di desa Mongbwalu, provinsi Ituri, di bagian timur Republik Demokratik Kongo, pada 25 Mei 2026. (ANTARA/ Anadolu Agency/pri.)
Seorang petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri sebelum mengangkut jenazah seseorang yang meninggal karena diduga terinfeksi Ebola di desa Mongbwalu, provinsi Ituri, di bagian timur Republik Demokratik Kongo, pada 25 Mei 2026. (ANTARA/ Anadolu Agency/pri.)

PONTIANAK POST- Respons internasional terhadap wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meningkat seiring lonjakan kasus yang dinilai mengkhawatirkan oleh sejumlah lembaga kesehatan dunia.

Pemerintah China menyatakan turut memberikan dukungan kemanusiaan dan menjalin kerja sama dengan Uni Afrika untuk memperkuat penanganan wabah di kawasan Afrika. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyebut bantuan tersebut mencakup pengiriman tenaga ahli medis.

"Pemerintah China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC, dan khususnya mengirim tim ahli medis untuk layanan dan bantuan medis," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (1/6).

Selain kepada DRC, China juga disebut memperkuat kerja sama dengan Komisi Uni Afrika dalam upaya pencegahan dan pengendalian Ebola. Beijing juga menegaskan komitmen untuk mendukung negara-negara Afrika melalui penguatan kapasitas kesehatan, termasuk kerja sama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika.

Di sisi lain, organisasi kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF) menyebut laju penyebaran Ebola di DRC berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Direktur operasional MSF Alan Gonzalez menilai kondisi di lapangan semakin sulit dikendalikan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyoroti kendala pemeriksaan yang memperlambat deteksi kasus. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas laboratorium agar penanganan lebih cepat dilakukan.

"Kami turut prihatin atas wabah Ebola baru di DRC. Saat memimpin pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB di New York, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan bahwa China akan selalu bergegas membantu ketika krisis publik besar terjadi," tambah Lin Jian.

Ia juga mengingatkan bahwa China sebelumnya telah membantu negara-negara Afrika Barat saat wabah Ebola pada 2015 dan kini kembali siap memberikan dukungan serupa, termasuk pengiriman 45 tim medis ke 44 negara di Afrika.

WHO sendiri telah menetapkan wabah Ebola di DRC dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Lebih dari 900 kasus suspek dilaporkan di DRC dengan sedikitnya 223 kematian, sementara total kasus kumulatif disebut telah melampaui 1.000 kasus sejak 15 Mei.

Strain Bundibugyo Ebola kini dilaporkan terkonsentrasi di wilayah timur DRC, meliputi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Sejumlah pihak menilai keterlambatan respons turut dipengaruhi kendala logistik dan dukungan internasional yang menurun di beberapa sektor kesehatan global. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#DRC #Ebola #who #china #msf