PONTIANAK POST - Serangan balasan Iran dilaporkan merusak 20 fasilitas militer Amerika Serikat di delapan negara Timur Tengah sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Teheran pada Februari lalu.
Analisis citra satelit menunjukkan kerusakan pada sistem pertahanan rudal, pesawat pengintai, gudang bahan bakar, hingga infrastruktur komunikasi militer yang nilainya mencapai miliaran dolar.
Konflik yang dimulai setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari itu tidak hanya memperluas ketegangan kawasan, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, stabilitas ekonomi regional, dan keamanan jalur energi global.
Baca Juga: Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Final dengan AS, Pertukaran Pesan Masih Berlangsung
Kerusakan Terjadi di Delapan Negara Timur Tengah
Analisis yang dilakukan BBC Verify menggunakan citra satelit dari sejumlah penyedia internasional menemukan bahwa fasilitas militer AS di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman menjadi sasaran serangan Iran.
Temuan tersebut menunjukkan cakupan serangan yang luas di berbagai pangkalan strategis Amerika Serikat.
Menurut laporan Anadolu, para analis menilai skala kerusakan yang terlihat di lapangan lebih besar dibandingkan gambaran yang selama ini disampaikan sejumlah pejabat Amerika.
Gedung Putih berulang kali menyatakan kemampuan militer Iran telah banyak dilemahkan. Namun bukti visual yang dianalisis menunjukkan serangan balasan Teheran tetap mampu menjangkau target-target penting dengan tingkat presisi tinggi.
Baca Juga: AS Rampas Aset Kripto Iran Senilai US$1 Miliar, Perluas Penyitaan Properti di Eropa
Sistem Pertahanan dan Pesawat Bernilai Miliaran Dolar Terdampak
Salah satu kerugian terbesar dilaporkan terjadi pada tiga sistem pertahanan rudal anti-balistik canggih yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Ruwais dan Al Sader di Uni Emirat Arab serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Kerusakan juga terdeteksi di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Citra satelit memperlihatkan bangkai pesawat dan bekas kebakaran pada area yang digunakan untuk operasi pengisian bahan bakar serta pengawasan udara.
Seorang analis dari MAIAR mengidentifikasi keberadaan pesawat pengintai E-3 Sentry di lokasi terdampak. Berdasarkan laporan media AS, nilai penggantian satu unit pesawat tersebut dapat mencapai sekitar 700 juta dolar AS.
Data ini memperlihatkan bahwa kerugian material tidak hanya berdampak pada kesiapan militer, tetapi juga menambah beban biaya pertahanan di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Pangkalan Kuwait dan Infrastruktur Komunikasi Ikut Terkena
Serangan Iran juga dilaporkan menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait.
Analisis satelit menemukan bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, dan fasilitas akomodasi pasukan mengalami kerusakan.
Temuan tersebut mengindikasikan lokasi itu menjadi target serangan lebih dari satu kali selama konflik berlangsung.
Baca Juga: Iran Sebut Blokade Laut AS di Selat Hormuz Masih Berlangsung, Tuding Washington Khianati Diplomasi
Di Camp Arifjan, perusahaan intelijen pertahanan Janes melaporkan kerusakan signifikan pada perangkat komunikasi satelit militer. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam koordinasi operasi dan distribusi informasi di kawasan.
Kerusakan terhadap fasilitas komunikasi dapat memperlambat respons militer sekaligus meningkatkan risiko gangguan operasional pada masa konflik.
Gencatan Senjata Belum Hasilkan Perdamaian Permanen
Ketegangan meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.
Teheran kemudian membalas dengan menyerang target Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan damai yang permanen.
Hingga kini kedua pihak masih saling bertukar proposal dan tuntutan untuk membuka kembali dialog langsung. Situasi tersebut membuat jutaan warga di kawasan Timur Tengah tetap hidup dalam bayang-bayang eskalasi konflik baru.
Di tengah kerusakan infrastruktur militer dan ketidakpastian diplomatik, dampak kemanusiaan menjadi perhatian utama.
Setiap kegagalan perundingan berpotensi memperpanjang ketidakstabilan regional yang memengaruhi keamanan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat sipil lintas negara.*
Editor : Uray Ronald