PONTIANAK POST - Sedikitnya lima orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan pada Selasa (2/6), hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan deeskalasi antara Israel dan Hizbullah.
Korban jiwa baru ini menambah keraguan terhadap efektivitas upaya perdamaian yang hingga kini belum secara resmi disetujui kedua pihak. Serangan terbaru terjadi di tengah konflik yang terus menelan korban di Lebanon.
Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan sedikitnya 3.433 orang tewas sejak 2 Maret, sementara pertempuran lintas perbatasan masih berlangsung meski sejumlah inisiatif gencatan senjata telah diumumkan.
Serangan Drone Israel Tewaskan Lima Orang dalam Sehari
Dari laporan Aljazeera, lima korban tewas dilaporkan dalam serangkaian serangan yang menghantam wilayah Nabatieh, Lebanon selatan.
Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan dua pekerja asal Suriah tewas ketika sebuah lokasi pembibitan tanaman di Kota Jebchit diserang. Kedua korban diketahui sedang bekerja saat serangan terjadi.
Baca Juga: Gencatan Senjata Dilanggar Lagi, Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 16 Orang
Serangan drone lainnya menghantam sebuah sepeda motor di Jalan Martyr Sabra, Toul, serta sebuah mobil di kawasan Dhi’at al-Arab, Ansar. Dua orang dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut.
Dalam insiden terpisah, seorang pengemudi mobil juga tewas akibat serangan drone di wilayah Nabatieh. Rentetan serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah muncul harapan baru mengenai kemungkinan penghentian kekerasan.
Klaim Trump tentang Deeskalasi Belum Menghentikan Pertempuran
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan telah melakukan pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perwakilan Hizbullah.
Trump mengklaim kedua pihak sepakat untuk mengurangi eskalasi konflik. Menurut pernyataan Kantor Presiden Lebanon Joseph Aoun, Hizbullah akan menghentikan serangan ke wilayah Israel, sementara militer Israel tidak lagi menyerang kawasan pinggiran selatan Beirut.
Namun fakta di lapangan menunjukkan situasi masih sangat rapuh. Militer Israel melaporkan berhasil mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari Lebanon ke wilayah utara Israel hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut.
Hingga kini Hizbullah belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan lintas perbatasan pasca-pengumuman Trump. Meski demikian, kelompok itu tetap mengaku melakukan serangan terhadap pasukan Israel yang berada di Lebanon selatan.
Konflik Terus Memakan Korban di Kedua Pihak
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan.
Pasukan Israel pada Sabtu lalu menguasai Kastel Beaufort yang berusia sekitar 900 tahun, sebuah posisi strategis di perbukitan Lebanon selatan.
Operasi tersebut menjadi salah satu penetrasi terdalam militer Israel ke wilayah Lebanon dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Baca Juga: Prajurit Israel Lecehkan Patung Bunda Maria di Lebanon Selatan, Dunia Mengecam
Militer Israel juga mengonfirmasi dua tentaranya tewas dalam pertempuran akhir pekan lalu di Lebanon selatan. Dengan demikian, jumlah personel militer Israel yang tewas sejak awal Maret mencapai 27 orang.
Di sisi lain, warga sipil Lebanon terus menjadi kelompok yang paling terdampak. Serangan udara, pertempuran darat, dan ketidakpastian keamanan memaksa banyak keluarga hidup dalam kondisi rentan dengan ancaman kekerasan yang dapat terjadi kapan saja.
Perundingan Damai Masih Berjalan di Tengah Ketidakpercayaan
Pengumuman Trump muncul menjelang putaran keempat perundingan langsung yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon.
Delegasi militer kedua pihak sebelumnya telah menggelar pembicaraan keamanan pada pekan lalu. Namun implementasi gencatan senjata yang berlaku sejak 17 April masih menghadapi banyak hambatan.
Baca Juga: Serangan Udara Israel Hantam Lebanon Selatan di Tengah Perpanjangan Gencatan Senjata
Israel dan Hizbullah saling menuduh melanggar kesepakatan hampir setiap hari. Kedua pihak juga menggunakan tuduhan pelanggaran tersebut sebagai alasan untuk melanjutkan operasi militer masing-masing.
Situasi semakin kompleks setelah Iran menyatakan tidak lagi melanjutkan pembicaraan dengan Washington menyusul ofensif militer Israel.
Teheran juga menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan perdamaian yang melibatkan kawasan.
Bagi warga sipil di Lebanon selatan, keberhasilan diplomasi bukan sekadar persoalan politik. Setiap kegagalan perundingan berarti bertambahnya risiko kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, dan rasa aman yang telah terkikis selama berbulan-bulan konflik berlangsung.(*)
Editor : Uray Ronald