PONTIANAK POST - Ratusan paus pilot dibantai dalam tradisi tahunan grindadrap di Kepulauan Faroe, wilayah otonom Denmark di Atlantik Utara.
Perburuan yang berlangsung di perairan dangkal itu kembali memicu perdebatan internasional setelah foto-foto laut yang berubah merah akibat darah hewan-hewan tersebut beredar luas di media sosial dan media internasional.
Laporan Daily Mail, Selasa (2/6) menyebutkan, dalam perburuan tradisional yang telah berlangsung selama lebih dari 1.000 tahun itu, kawanan paus pilot digiring menggunakan perahu menuju pantai dan perairan dangkal.
Setelah terjebak di dekat garis pantai, hewan-hewan tersebut disembelih oleh nelayan setempat untuk diambil daging dan lemaknya yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Sejumlah foto menunjukkan bangkai paus berjajar di sepanjang pantai, sementara air laut di sekitarnya berubah warna menjadi merah akibat darah yang mengalir dari proses penyembelihan.
Tradisi Viking yang Bertahan Hingga Kini
Grindadrap merupakan tradisi yang berasal dari era Viking dan masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Faroe hingga saat ini.
Pemerintah Kepulauan Faroe berpendapat bahwa perburuan tersebut merupakan bagian penting dari warisan budaya sekaligus sumber pangan lokal yang tidak diperjualbelikan secara komersial.
Otoritas setempat menyatakan hasil perburuan dibagikan secara gratis kepada warga dan dianggap sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang telah dilakukan secara turun-temurun selama berabad-abad.
Bagi banyak warga Faroe, tradisi tersebut tidak sekadar aktivitas berburu, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kecaman dari Kelompok Perlindungan Hewan
Di sisi lain, organisasi perlindungan hewan internasional terus mengecam praktik tersebut.
Kelompok aktivis menilai metode perburuan yang digunakan menyebabkan penderitaan bagi mamalia laut yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan dan ikatan sosial tinggi.
Foto-foto yang memperlihatkan paus terdampar di pantai dan laut yang memerah setiap musim panas kerap memicu gelombang kritik dari berbagai negara.
Aktivis lingkungan menilai tradisi tersebut sudah tidak relevan di era modern ketika masyarakat memiliki akses terhadap berbagai sumber pangan alternatif.
Menurut organisasi konservasi laut internasional Sea Shepherd Conservation Society, perburuan paus pilot di Kepulauan Faroe tidak lagi dapat dibenarkan hanya dengan alasan tradisi.
"Tidak ada tradisi yang dapat membenarkan pembantaian ini," demikian pernyataan resmi Sea Shepherd dalam kampanye mereka untuk menghentikan grindadráp.
Organisasi tersebut telah mendokumentasikan perburuan paus dan lumba-lumba di Faroe sejak 1983 dan menyebut ribuan cetacea terbunuh dalam beberapa dekade terakhir.
"Seluruh kawanan digiring ke teluk dangkal dan dibunuh," tulis Sea Shepherd dalam laporan pemantauan terbaru mereka mengenai perburuan di Faroe Islands.
Sementara itu, organisasi konservasi laut Whale and Dolphin Conservation (WDC) menilai perburuan paus pilot sudah tidak lagi diperlukan sebagai sumber pangan utama masyarakat modern Faroe.
"Tidak ada lagi kebutuhan akan daging paus untuk memenuhi kebutuhan gizi," tulis WDC dalam kajiannya mengenai perburuan paus dan lumba-lumba di Faroe Islands.
Populasi Paus Pilot dan Peran Pentingnya di Laut
Paus pilot sirip panjang (long-finned pilot whale) merupakan salah satu spesies mamalia laut yang hidup berkelompok dalam struktur sosial yang kuat.
Betina dapat hidup hingga sekitar 60 tahun, sementara jantan mampu mencapai usia 45 tahun.
Spesies ini berkembang biak secara lambat. Seekor induk biasanya hanya melahirkan satu anak setiap tiga hingga enam tahun, sehingga kehilangan individu dalam jumlah besar dapat menjadi perhatian bagi para peneliti konservasi.
Selain itu, paus pilot memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Sebagai predator, mereka membantu mengatur populasi berbagai spesies laut dan menjadi bagian penting dari rantai makanan samudra.
Baca Juga: Red Feifeng, Ikan Amazon yang Menarik untuk Koleksi dan Investasi
Ribuan Mamalia Laut Dibunuh Setiap Tahun
Meskipun tidak terdapat kuota resmi mengenai jumlah hewan yang dapat diburu, data dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan lebih dari seribu mamalia laut, termasuk paus pilot dan lumba-lumba, dapat terbunuh dalam satu tahun.
Pada 2025, diperkirakan sebanyak 814 paus pilot sirip panjang dan lumba-lumba sisi putih Atlantik dibunuh dalam berbagai perburuan yang berlangsung di Kepulauan Faroe.
Angka tersebut terus menjadi sorotan kelompok konservasi yang mempertanyakan dampaknya terhadap kesejahteraan hewan dan keberlanjutan populasi mamalia laut di kawasan Atlantik Utara.
Perdebatan antara Budaya dan Konservasi
Kontroversi grindadrap mencerminkan perdebatan yang lebih luas antara pelestarian tradisi budaya dan tuntutan perlindungan satwa di era modern.
Pendukung tradisi menilai perburuan tersebut merupakan hak budaya masyarakat lokal yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Sebaliknya, para penentang berargumen bahwa kemajuan pengetahuan tentang kecerdasan mamalia laut dan meningkatnya kesadaran kesejahteraan hewan seharusnya mendorong penghentian praktik tersebut.
Perdebatan itu diperkirakan akan terus berlanjut, terutama setiap kali musim perburuan kembali berlangsung dan gambar-gambar dramatis dari pantai Faroe kembali menyita perhatian dunia.*
Editor : Uray Ronald