Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Iran Klaim Serang Markas Armada Kelima AS, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas

Uray Ronald • Rabu, 3 Juni 2026 | 20:44 WIB
Ilustrasi rudal Iran. (IRNA)
Ilustrasi rudal Iran. (IRNA)

 

PONTIANAK POST – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.

Serangan ini sebagai balasan atas serangkaian aksi militer Washington yang disebut menyerang aset dan fasilitas Iran di kawasan Teluk.

Eskalasi terbaru ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.

IRGC melalui pernyataan yang dipublikasikan kantor berita Sepah News pada Rabu (3/6) dini hari menyebut operasi tersebut dilakukan oleh Pasukan Dirgantara IRGC sebagai respons langsung terhadap sejumlah serangan yang dituduhkan kepada militer Amerika Serikat.

Baca Juga: Analisis Satelit Ungkap Iran Rusak 20 Fasilitas Militer AS, Skala Serangan Dinilai Lebih Besar dari Klaim Amerika

Iran Klaim Serangan Balasan Setelah Kapal Tanker Diserang

Menurut IRGC, rangkaian insiden bermula pada Selasa malam ketika sebuah pesawat militer Amerika disebut menyerang kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz.

Serangan tersebut, menurut pernyataan Iran, menyebabkan kerusakan pada ruang mesin kapal. Namun, hingga berita ini ditulis belum ada konfirmasi independen maupun pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat terkait tuduhan tersebut.

Sebagai balasan, IRGC mengaku meluncurkan rudal ke kapal dagang bernama MSC Panaya yang disebut memiliki keterkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen. Tidak ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat insiden tersebut.

Baca Juga: Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Final dengan AS, Pertukaran Pesan Masih Berlangsung

Markas Armada Kelima AS dan Pangkalan Militer Jadi Sasaran

Dalam pernyataan yang sama, IRGC menuduh pasukan Amerika kemudian menyerang menara komunikasi milik Garda Revolusi di bagian selatan Pulau Qeshm.

Sebagai respons, Iran mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sebuah pangkalan udara serta helikopter milik Amerika Serikat yang berada di salah satu negara kawasan Timur Tengah.

Target lain yang disebut dalam operasi tersebut adalah markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, salah satu pusat komando militer paling strategis Washington di kawasan Teluk.

Armada Kelima memiliki peran penting dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, termasuk di Teluk Persia, Laut Arab, Teluk Oman, dan Selat Hormuz. Kawasan ini menjadi titik transit utama bagi pasokan minyak global.

Hingga saat ini belum terdapat informasi resmi mengenai dampak serangan yang diklaim Iran maupun kemungkinan korban dari pihak militer Amerika Serikat.

Baca Juga: AS Rampas Aset Kripto Iran Senilai US$1 Miliar, Perluas Penyitaan Properti di Eropa

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Rawan Konflik

Meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran internasional dan stabilitas pasar energi global.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi internasional dan memicu gejolak harga minyak.

Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa setiap tindakan yang dianggap mengganggu keamanan di Selat Hormuz akan mendapat respons keras dari Iran.

Peringatan tersebut memperlihatkan meningkatnya risiko konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, terutama ketika aktivitas militer kedua negara terus meningkat.

Bagi masyarakat sipil di kawasan, eskalasi konflik tidak hanya berisiko menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga mengancam keselamatan warga yang tinggal di sekitar wilayah strategis dan jalur pelayaran internasional tersebut.

Kekhawatiran Dunia Internasional Meningkat

Sejumlah pengamat menilai peningkatan aksi militer antara Iran dan Amerika Serikat dapat memperbesar risiko salah perhitungan yang berujung pada konflik lebih luas.

Komunitas internasional selama ini menaruh perhatian besar terhadap keamanan Selat Hormuz karena jalur tersebut menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Di tengah meningkatnya ketegangan, berbagai pihak diperkirakan akan mendorong upaya diplomatik guna mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu stabilitas regional maupun perekonomian global.*

Editor : Uray Ronald
#Armada Kelima AS #selat hormuz #konflik timur tengah #iran #irgc