PONTIANAK POST – Bayang-bayang menara Masjidil Haram mulai memanjang ketika azan berkumandang memecah udara Kota Makkah. Di pelataran tawaf, ratusan ribu jemaah tak hanya menengadahkan tangan untuk berdoa, tetapi juga menantikan salah satu prosesi paling sakral dalam kalender Islam: pergantian kiswah Ka'bah menyambut 1 Muharram.
Sejak sore hari, suasana di sekitar Baitullah tampak berbeda. Sejumlah petugas dengan seragam khusus mulai bersiap di sekeliling Ka'bah. Beberapa di antaranya bahkan telah berada di atas atap bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam sedunia itu.
Mereka adalah tim ahli yang mendapat amanah mengganti kiswah, kain penutup Ka'bah yang setiap tahun diperbarui sebagai bagian dari tradisi dan pemeliharaan Baitullah.
Bagi jemaah yang menyaksikan langsung, momen tersebut menghadirkan pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.
Waktu seakan berjalan lebih lambat. Dari senja menuju Maghrib, lalu berlanjut hingga malam, para petugas bekerja dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan.
Satu per satu pengikat kiswah lama dilepaskan. Seluruh proses berlangsung teratur dan nyaris tanpa suara, seolah mengajak setiap orang yang hadir untuk larut dalam kekhusyukan.
Baca Juga: Catatan Haji: Menelusuri Jejak Rasul di Makkah dan Madinah
Puncak Prosesi Menjelang Tengah Malam
Momen yang paling dinanti terjadi menjelang tengah malam.
Di bawah cahaya terang lampu Masjidil Haram, kiswah baru mulai dinaikkan secara perlahan. Pada saat yang sama, kiswah lama diturunkan dari empat sisi Ka'bah.
Kain sutra hitam pekat yang baru tampak menjuntai perlahan menutupi bangunan suci tersebut. Sulaman kaligrafi berbenang emas memantulkan cahaya dan menghadirkan pemandangan yang memukau.
Ratusan ribu pasang mata tertuju ke arah yang sama. Talbiyah, selawat, dan doa-doa mengalun dari berbagai penjuru pelataran.
Tak sedikit jamaah yang tampak menitikkan air mata saat menyaksikan prosesi yang hanya berlangsung sekali dalam setahun itu.
Lebih dari Sekadar Pergantian Kain
Pergantian kiswah bukan hanya sebuah seremoni tahunan.
Bagi umat Islam, momen tersebut mengandung makna simbolis yang sangat mendalam. Pergantian kiswah pada awal tahun Hijriah menjadi pengingat tentang pentingnya memperbarui niat, memperbaiki diri, dan memulai lembaran kehidupan yang baru.
Ka'bah yang mengenakan balutan kain baru seolah mengajak setiap muslim meninggalkan kesalahan masa lalu dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam makna yang lebih luas, pergantian kiswah merepresentasikan semangat hijrah. Bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ketakwaan.
Baca Juga: Makkah, Tempat Doa-Doa Diijabah
Menjaga Kesucian dan Keindahan Baitullah
Di balik nilai spiritualnya, pergantian kiswah juga memiliki alasan praktis yang sangat penting.
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai negara datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Dalam pelaksanaan tawaf, banyak jamaah yang berusaha menyentuh, mengusap, atau mencium kiswah Ka'bah sebagai ungkapan cinta dan kerinduan kepada Baitullah.
Jutaan sentuhan tersebut tentu memengaruhi kondisi fisik kain penutup Ka'bah.
Karena itu, pembaruan kiswah dilakukan secara berkala untuk menjaga kebersihan, kesucian, dan keindahannya dari keausan maupun kerusakan akibat penggunaan selama satu tahun penuh.
Tradisi yang Berubah Sejak 2022
Pergantian kiswah pada 1 Muharram merupakan tradisi yang relatif baru.
Sebelumnya, kiswah Ka'bah secara rutin diganti setiap 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah. Saat itu, kondisi Masjidil Haram relatif lebih lengang karena mayoritas jamaah haji berada di Arafah.
Namun pada 2022 atau tahun 1444 Hijriah, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud memutuskan mengubah jadwal pergantian kiswah menjadi 1 Muharram.
Perubahan tersebut memungkinkan lebih banyak umat Islam menyaksikan langsung prosesi pergantian kiswah dan menjadikannya bagian dari syiar Islam yang lebih luas.
Mahakarya Seni Islam dari Sutra, Emas, dan Perak
Keindahan kiswah tidak hanya terletak pada warna hitamnya yang khas.
Kain penutup Ka'bah dibuat dari sutra hitam berkualitas tinggi dan dihiasi ayat-ayat suci Al Quran yang disulam menggunakan benang emas dan perak.
Proses pembuatannya dilakukan oleh para perajin ahli di kompleks khusus pembuatan kiswah di Makkah.
Puluhan kilogram benang emas dan perak digunakan untuk menghasilkan sulaman kaligrafi yang menghiasi setiap bagian kiswah.
Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan
Setiap jahitan dikerjakan dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, menjadikan kiswah bukan hanya simbol keagamaan, tetapi juga salah satu karya seni Islam paling agung di dunia.
Keagungan kiswah juga tercermin dari bahan dan proses pembuatannya yang sangat kompleks. Menurut Otoritas Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kiswah terbaru memiliki berat sekitar 1.415 kilogram dengan tinggi 14 meter.
Pembuatannya menggunakan sekitar 825 kilogram sutra murni yang diwarnai hitam, 120 kilogram benang perak berlapis emas, 60 kilogram benang perak murni, serta 410 kilogram kapas. Proses pengerjaan dilakukan oleh puluhan perajin ahli.
Kiswah terdiri atas 47 lembar kain sutra yang menutupi seluruh bangunan Ka'bah dan dihiasi kaligrafi ayat-ayat suci Al Quran yang disulam secara presisi menggunakan benang emas dan perak.
Setiap tahapan pengerjaan, mulai dari pewarnaan sutra, penenunan, penyulaman, hingga perakitan, dilakukan dengan standar yang sangat ketat untuk menjaga kualitas dan keindahannya.
Selain menjadi simbol spiritual umat Islam, kiswah juga merupakan salah satu karya seni tekstil paling bernilai di dunia.
Saudipedia, ensiklopedia resmi Arab Saudi, menyebut biaya pembuatan satu kiswah setiap tahun mencapai lebih dari 20 juta riyal Saudi atau setara lebih dari Rp85 miliar dengan kurs saat ini. Proses pembuatannya memerlukan waktu antara enam hingga delapan bulan sebelum akhirnya dipasang pada awal tahun Hijriah.
Menyambut Tahun Baru dengan Harapan Baru
Menjelang dini hari, prosesi pergantian kiswah akhirnya selesai.
Ka'bah kini berdiri dengan balutan jubah baru yang menjuntai sempurna. Hitam pekat kain sutranya memancarkan kewibawaan, sementara kaligrafi emasnya tampak berkilau di bawah cahaya Masjidil Haram.
Bagi jemaah yang bertahan sejak sore hingga larut malam, rasa lelah seakan terbayar lunas oleh pengalaman spiritual yang begitu berkesan.
Di hadapan Ka'bah yang telah mengenakan kiswah baru, tahun Hijriah yang baru pun resmi dimulai.
Bersamaan dengan itu, lahir pula harapan baru, doa-doa baru, dan tekad baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah SWT.*
Editor : Uray Ronald