PONTIANAK POST - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa setiap serangan baru Israel ke Lebanon atau kelanjutan pendudukan wilayah Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap memorandum kesepahaman (MoU) yang disepakati antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam pertemuan dengan para duta besar, kuasa usaha, serta kepala perwakilan diplomatik dan organisasi internasional yang berada di Teheran pada Selasa (16/6) waktu setempat.
Dalam forum itu, ia menjelaskan perkembangan terbaru negosiasi antara Teheran dan Washington yang bertujuan mengakhiri konflik yang menurut Iran dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari.
Menurut Araghchi, kesepakatan Iran-AS secara resmi akan mulai berlaku setelah penandatanganan pada Jumat mendatang. Ia juga mengungkapkan bahwa putaran baru perundingan akan segera dimulai guna mencapai perjanjian final yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Araghchi Desak Penghentian Total Serangan Israel ke Lebanon, AS Diminta Tanggung Jawab
Akhir Perang Diumumkan Sebelum Penandatanganan Resmi
Araghchi mengatakan pengumuman berakhirnya perang telah dilakukan pada Senin pagi waktu Teheran setelah tercapainya kesepakatan awal antara para pihak.
“Perkembangan terpenting pada tahap pertama adalah deklarasi berakhirnya perang. Setelah kesepakatan final dicapai, perang diumumkan berakhir pada Senin pagi waktu Teheran. Namun memorandum tersebut baru akan berlaku secara resmi pada Jumat,” kata Araghchi dilansir IRNA.
Ia menegaskan bahwa implementasi penuh kesepakatan tidak hanya bergantung pada penghentian konflik antara Iran dan pihak lawan, tetapi juga pada perkembangan situasi keamanan di Lebanon.
Lebanon Menjadi Bagian Penting dalam Kesepakatan
Araghchi menjelaskan bahwa sejak awal Iran memandang penghentian perang di Lebanon sebagai prasyarat penting bagi berakhirnya konflik yang lebih luas di kawasan.
Menurutnya, front Lebanon dan perang yang melibatkan Iran telah menjadi saling terkait. Karena itu, penghentian permusuhan di Lebanon diposisikan sebagai bagian integral dari proses deeskalasi regional.
Ia menyebut bahwa dalam kerangka memorandum tersebut, Amerika Serikat dan Israel berada di satu pihak, sementara Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon berada di pihak lainnya.
Araghchi menegaskan bahwa tujuan utama kesepakatan tidak akan tercapai selama perang masih berlangsung di Lebanon atau pasukan Israel tetap mempertahankan wilayah yang didudukinya selama konflik.
“Setiap serangan militer baru dan keberlanjutan pendudukan wilayah Lebanon mulai saat ini akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap memorandum,” tegasnya.
Dampak Kemanusiaan Masih Menjadi Tantangan
Di tengah perkembangan diplomatik tersebut, kondisi kemanusiaan di Lebanon masih menjadi perhatian berbagai lembaga internasional.
Ribuan keluarga di wilayah selatan Lebanon dilaporkan masih menghadapi ketidakpastian akibat kerusakan infrastruktur, ancaman keamanan, dan terbatasnya akses layanan dasar.
Bagi warga sipil yang terdampak, keberhasilan kesepakatan Iran-AS tidak hanya diukur dari berakhirnya pertempuran, tetapi juga dari kemampuan para pihak menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat kembali ke rumah mereka dengan aman.
Baca Juga: Mantan PM Sebut Kesepakatan AS-Iran Bisa Dianggap Pengkhianatan oleh Israel
Data terbaru dari OCHA menunjukkan bahwa konflik yang terus berlanjut di Lebanon selatan masih memicu gelombang pengungsian dan kebutuhan kemanusiaan yang besar.
Dalam perkembangan awal Juni 2026, OCHA melaporkan serangan udara, perintah evakuasi baru, dan pembatasan akses di sejumlah wilayah perbatasan selatan menyebabkan perpindahan penduduk berulang kali.
Sementara itu, UNHCR pada Maret 2026, UNHCR melaporkan hampir 700.000 orang mengungsi dalam waktu satu pekan, sementara jumlah pengungsi internal di Lebanon diperkirakan telah melampaui 1 juta orang.
Data kemanusiaan terbaru juga menunjukkan bahwa banyak warga belum dapat kembali ke daerah perbatasan Lebanon selatan. Selain ancaman keamanan yang masih berlangsung, ribuan rumah dan bangunan sipil mengalami kerusakan berat atau hancur.
Menurut berbagai lembaga kemanusiaan, kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, perempuan, lansia, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Kebutuhan mendesak saat ini mencakup tempat penampungan, layanan kesehatan, dukungan psikososial, air bersih, serta bantuan pemulihan bagi masyarakat yang rumah dan sumber penghidupannya terdampak perang.
Iran Apresiasi Peran Pakistan dan Qatar
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi menyampaikan apresiasi kepada Pakistan dan Qatar atas peran konstruktif kedua negara dalam mendukung upaya perdamaian dan stabilitas kawasan.
Menurutnya, kontribusi diplomatik sejumlah negara regional menjadi faktor penting dalam membuka ruang dialog dan mendorong tercapainya kesepakatan yang diharapkan dapat menurunkan ketegangan di Timur Tengah.
Prospek Negosiasi Selanjutnya
Meski memorandum kesepahaman telah tercapai, tantangan menuju kesepakatan permanen masih besar.
Putaran negosiasi berikutnya diperkirakan akan membahas mekanisme implementasi, pengawasan kepatuhan para pihak, serta langkah-langkah untuk memastikan konflik tidak kembali meluas ke berbagai front di kawasan.*
Editor : Uray Ronald