Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Damai AS-Iran Belum Jamin Selat Hormuz Kembali Normal, Ratusan Kapal Masih Menunggu Kepastian

Uray Ronald • Kamis, 18 Juni 2026 | 07:46 WIB
 Kapal tanker melintas di selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu).
 Kapal tanker melintas di selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu).

 

PONTIANAK POST - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan tidak akan langsung pulih meskipun Amerika Serikat dan Iran bergerak menuju kesepakatan formal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan.

Pelaku industri pelayaran menilai keamanan nyata di lapangan lebih penting daripada sekadar kesepakatan politik. Mereka memilih menunggu bukti bahwa jalur perdagangan energi paling vital di dunia itu benar-benar aman sebelum kembali beroperasi normal.

Pernyataan tersebut disampaikan CEO Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, kepada Financial Times, Selasa (16/6). Mitsui OSK Lines merupakan operator kapal tanker terbesar di dunia berdasarkan jumlah armada yang dimiliki.

"Apa yang diperlukan bukan hanya kesepakatan antarnegara, tetapi implementasi nyata di lapangan sehingga perusahaan pelayaran merasa aman untuk kembali melintas," kata Tamura, dikutip dari Antara.

Baca Juga: Tiga Tanker Iran Tembus Blokade AS, Sinyal Awal Kebangkitan Ekspor Minyak Teheran

Pemulihan Diperkirakan Memakan Waktu Beberapa Pekan

Menurut Tamura, pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa berbagai upaya membuka kembali jalur pelayaran sering mengalami kemunduran.

Karena itu, perusahaan-perusahaan pelayaran global diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan operasional.

Ia memperkirakan pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz membutuhkan waktu setidaknya beberapa pekan hingga sekitar satu bulan setelah kesepakatan resmi diberlakukan.

Selat Hormuz, Urat Nadi Pasokan Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sebelum konflik terjadi, lebih dari seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Selain energi, jalur ini juga menjadi rute penting perdagangan biji-bijian, bahan pangan, barang konsumsi, hingga produk manufaktur yang memasok kebutuhan jutaan orang di kawasan Teluk.

Penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada perusahaan pelayaran, tetapi juga dapat memengaruhi harga energi global, biaya logistik, dan inflasi di berbagai negara.

Data terbaru dari International Energy Agency menunjukkan kawasan Teluk tetap menjadi salah satu pusat pasokan energi terpenting dunia.

Dalam lembar fakta yang diperbarui pada Februari 2026, IEA mencatat sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang 2025.

Jumlah itu setara dengan sekitar 25 persen perdagangan minyak laut dunia. Jalur ini juga menjadi rute utama ekspor bagi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Iran.

Baca Juga: Iran dan AS Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Pelayaran Dunia

Khusus Iran, data IEA menunjukkan negara tersebut mengekspor sekitar 2,41 juta barel per hari melalui Selat Hormuz pada 2025, terdiri atas 1,69 juta barel minyak mentah dan kondensat serta 720 ribu barel produk minyak.

Volume tersebut menjadikan Iran salah satu pemasok energi utama yang bergantung pada keamanan jalur pelayaran tersebut. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu volatilitas harga minyak internasional.

Selain minyak, IEA juga mencatat bahwa hampir seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.

Karena itu, setiap gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut tidak hanya memengaruhi pasar minyak, tetapi juga ketahanan energi negara-negara pengimpor utama di Asia dan Eropa.

Ratusan Kapal Menunggu Giliran Melintas

Mitsui OSK Lines mengoperasikan lebih dari 900 kapal, termasuk lebih dari 200 kapal tanker yang mengangkut minyak mentah, produk minyak bumi, dan bahan kimia.

Sebelum kesepakatan damai tercapai, perusahaan itu telah memindahkan empat kapal keluar dari kawasan Teluk sebagai langkah mitigasi risiko.

Sementara itu, sedikitnya tujuh kapal lainnya masih menunggu kesempatan aman untuk melintasi Selat Hormuz.

Kondisi serupa dialami banyak operator kapal lain yang kini menghadapi ketidakpastian jadwal pelayaran dan biaya operasional yang meningkat.

IMO Siapkan Skema Pembukaan Jalur Secara Bertahap

Situasi tersebut mendorong perusahaan pelayaran internasional meminta koordinasi dari Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur keselamatan pelayaran global.

Industri memperkirakan sekitar 500 kapal saat ini membutuhkan akses aman untuk keluar dari kawasan Teluk.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan organisasinya tengah mengevaluasi berbagai aspek keselamatan sebelum mengizinkan pelayaran kembali normal.

Penilaian mencakup ancaman ranjau laut, risiko tabrakan akibat kepadatan lalu lintas, serta keamanan awak kapal.

Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak Dekati USD 95 per Barel

Nasib Ribuan Pelaut yang Tertahan

Selain memastikan keamanan kapal, IMO juga mengupayakan pembentukan koridor evakuasi yang aman bagi para pelaut yang telah tertahan lebih dari 100 hari di kawasan Teluk akibat konflik.

Bagi banyak pelaut, ketidakpastian tersebut bukan sekadar persoalan pekerjaan. Mereka harus menghadapi keterpisahan panjang dari keluarga dan meningkatnya tekanan psikologis selama masa penantian.

Industri Sambut Positif Perdamaian, Tetapi Tetap Hati-Hati

Perusahaan pelayaran peti kemas global Hapag-Lloyd menyambut baik perkembangan menuju perdamaian.

Perusahaan berharap kapal-kapal yang tertahan dapat segera kembali menjalankan aktivitas perdagangan internasional.

Namun, Direktur Kelautan Intertanko Philip Belcher mengingatkan bahwa setiap kapal tetap harus melakukan penilaian risiko secara individual sebelum memasuki kawasan tersebut.

Pendekatan hati-hati dinilai penting untuk menghindari risiko keselamatan yang masih mungkin muncul meski kesepakatan damai telah diumumkan.

Kesepakatan Damai AS-Iran Masuki Tahap Final

Laporan Financial Times muncul ketika Amerika Serikat dan Iran bergerak menuju penyelesaian formal konflik yang berlangsung hampir empat bulan.

Pejabat AS pada Senin (15/6) menyatakan kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah awal penghentian konflik.

Upacara penandatanganan resmi diperkirakan berlangsung pada Jumat (19/6).

Meski demikian, bagi industri pelayaran global, berakhirnya konflik secara diplomatik belum otomatis menghilangkan risiko di lapangan.

Dunia kini menunggu apakah perdamaian tersebut benar-benar mampu mengembalikan keamanan jalur perdagangan yang selama ini menjadi urat nadi pasokan energi dan barang bagi miliaran penduduk dunia.*

Editor : Uray Ronald
#AS dan Iran #pelayaran global #pasokan minyak dunia #Mitsui OSK Lines #selat hormuz