Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Utusan Takhta Suci Vatikan Sebut Islam Sabah Mirip Islam Indonesia

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 18 Juni 2026 | 22:02 WIB
TUKAR CINDERAMATA – Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan, Pater Markus Solo Kewuta SVD (kanan), bertukar cinderamata dengan perwakilan Masjid Negeri Sabah usai dialog dan silaturahmi di Kota Kinabalu, Malaysia, Rabu (17/6). Pertemuan tersebut menegaskan semangat persaudaraan, toleransi, dan kerja sama lintas agama antara komunitas Indonesia dan Malaysia.
TUKAR CINDERAMATA – Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan, Pater Markus Solo Kewuta SVD (kanan), bertukar cinderamata dengan perwakilan Masjid Negeri Sabah usai dialog dan silaturahmi di Kota Kinabalu, Malaysia, Rabu (17/6). Pertemuan tersebut menegaskan semangat persaudaraan, toleransi, dan kerja sama lintas agama antara komunitas Indonesia dan Malaysia.

PONTIANAK POST – Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan, Pater Markus Solo Kewuta SVD, menilai Islam Sabah dan Islam Indonesia memiliki karakter yang serupa, yakni ramah, terbuka, dan santun. Pengalaman tersebut ia rasakan langsung saat melakukan kunjungan silaturahmi ke Masjid Negeri Sabah di Kota Kinabalu, Malaysia.

Menurut Pater Markus, kesamaan budaya dan bahasa menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarumat beragama di kawasan Borneo. Ia mengaku merasakan suasana yang tidak jauh berbeda dengan ketika berinteraksi dengan komunitas Muslim di Indonesia.

“Kami disambut resmi dengan ramah. Ada dialog, sesi tanya jawab, diskusi berbagai persoalan, rencana kerja sama, dan ditutup dengan makan siang bersama atas kebaikan Tim Masjid Negeri Sabah,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan di sela kehadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia di Kuala Lumpur yang digelar melalui kerja sama Liga Muslim Arab dan Pemerintah Malaysia pada 12 Juni 2026.

Satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia yang akrab disapa Padre Marco itu mengatakan, salah satu pengalaman paling berkesan adalah kemiripan bahasa Melayu dan Indonesia yang membuat komunikasi berlangsung hangat dan tanpa hambatan.

Awalnya percakapan dilakukan dalam bahasa Inggris. Namun setelah mengetahui dirinya berasal dari Indonesia, tuan rumah beralih menggunakan bahasa Melayu yang sangat mudah dipahami.

“Saya menggunakan sapaan awal bahasa Arab, sedikit bahasa Inggris, lalu seluruh pembicaraan berlangsung dalam bahasa Indonesia. Mereka sangat antusias karena memahami bahasa Indonesia dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa bahasa Melayu yang digunakan masyarakat Sabah memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Indonesia dibandingkan dialek Melayu di Semenanjung Malaysia.

Menurutnya, kedekatan bahasa tersebut mencerminkan hubungan budaya yang telah terjalin lama antara masyarakat Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sabah.

“Ketika berada bersama saudara-saudari Muslim di Masjid Negeri Sabah, saya merasa seperti berada bersama saudara-saudari Muslim di Indonesia,” ujarnya.

Padre Marco menilai tradisi makan bersama menjadi simbol kuat persaudaraan lintas agama di kawasan Nusantara. Pengalaman itu ia rasakan saat diundang makan siang bersama pengurus dan jamaah Masjid Negeri Sabah.

Dalam suasana kekeluargaan, para tamu duduk semeja, berbagi hidangan yang sama, dan saling menyapa tanpa sekat perbedaan agama maupun latar belakang.

“Makan bersama menjadi perekat tali silaturahmi dari sisi kemanusiaan dan budaya yang melampaui berbagai perbedaan. Berbeda, tetapi tetap bisa semeja makan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan sering kali menemukan ruang yang lebih kuat melalui interaksi sederhana seperti berbagi makanan dan minuman.

Pengalaman makan bersama yang dialami Pater Markus sejalan dengan temuan sejumlah penelitian sosial di kawasan Melayu. Peneliti dari Universiti Teknologi MARA Malaysia, Ireena Nasiha Ibnu, dalam riset mengenai budaya commensality atau makan bersama, menyebut aktivitas berbagi makanan tidak sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga membangun hubungan sosial, identitas kolektif, dan rasa kebersamaan lintas kelompok. Tradisi makan bersama menjadi ruang informal yang efektif untuk memperkuat kepercayaan dan kedekatan antarmanusia.

Selain dialog dan diskusi, Padre Marco juga menerima hadiah berupa sarung dari Masjid Negeri Sabah. Baginya, hadiah tersebut menjadi simbol kedekatan budaya antara masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Ia bahkan berencana menggunakan sarung tersebut saat musim panas di Italia sebagai pengingat atas keramahan yang diterimanya selama berada di Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu.

“Simbol budaya ini sangat kuat. Musim panas di Italia membutuhkan kain sarung. Akan saya coba,” ujarnya.

Dalam KTT ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia di Kuala Lumpur, Padre Marco hadir sebagai utusan Takhta Suci Vatikan dan mendapat kesempatan berbicara mengenai tema “Youth Empowerment” atau Pemberdayaan Kaum Muda.

Ia mengatakan seluruh peserta forum sepakat bahwa generasi muda harus dilibatkan lebih besar dalam proses pembangunan masyarakat dan bangsa.

“Kaum muda perlu dipersiapkan secara moral, keagamaan, dan pendidikan. Mereka juga harus diberikan ruang untuk memperoleh pengalaman dan tanggung jawab,” katanya.

Menurutnya, tantangan baru yang harus dihadapi generasi muda adalah penyalahgunaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang berpotensi merusak tatanan sosial jika tidak digunakan secara bertanggung jawab.

Karena itu, pendidikan dan pendampingan generasi muda menjadi agenda penting yang harus dijalankan oleh seluruh komunitas keagamaan.

Sebagai informasi, ASEAN Foundation dalam laporan "AI Ready ASEAN" pada 2026 juga menyoroti kesenjangan antara cepatnya adopsi AI dan kesiapan institusi pendidikan maupun masyarakat dalam mengelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab. Peneliti menilai tantangan utama saat ini bukan lagi apakah generasi muda menggunakan AI, melainkan apakah mereka memiliki kemampuan dan pendampingan yang cukup untuk memanfaatkannya secara etis dan produktif.

KTT ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia dihadiri sejumlah pemimpin dan tokoh penting, termasuk Sultan Perak, Perdana Menteri Malaysia, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Arab, serta delegasi berbagai agama dari sejumlah negara.

Dari Indonesia, hadir perwakilan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi).

Forum tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat dialog antaragama, membangun perdamaian, serta meningkatkan peran generasi muda dalam menjaga harmoni sosial di tengah tantangan global yang terus berkembang. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Islam Sabah #toleransi lintas agama #pemberdayaan kaum muda #vatikan #dialog antaragama