PONTIANAK POST - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan militernya tidak akan menarik diri dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan meskipun kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran secara tegas menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu pada Kamis (18/6) waktu setempat di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap implementasi memorandum yang ditandatangani Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Israel Bersikeras Pertahankan Zona Keamanan di Lebanon Selatan
Dalam pernyataannya yang dikutip media Israel, Netanyahu mengatakan pemerintahnya akan terus mempertahankan apa yang disebut sebagai "zona keamanan" di Lebanon selatan.
Menurutnya, keamanan warga Israel di wilayah utara hanya dapat dijamin jika pasukan tetap berada di area yang saat ini diduduki.
"Israel akan memulihkan keamanan di wilayah utara. Hal itu membutuhkan pemeliharaan sabuk keamanan di Lebanon selatan, dan karena itu kami tidak akan mundur selama kebutuhan keamanan Israel masih mengharuskannya," kata Netanyahu dikutip dari Anadolu.
Baca Juga: Araghchi Peringatkan Israel: Serangan ke Lebanon Bisa Gagalkan Kesepakatan Iran-AS Akhiri Perang
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa pemerintah Israel belum berniat mengakhiri kehadiran militernya di wilayah Lebanon, meskipun tekanan diplomatik mulai meningkat setelah tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Peta Militer Tunjukkan Pendudukan Hingga 10 Kilometer ke Dalam Lebanon
Pada hari yang sama, militer Israel merilis peta yang menunjukkan keberadaan pasukan mereka hingga sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon selatan.
Area yang diduduki mencakup sejumlah kota dan desa di dekat perbatasan. Di beberapa sektor bagian barat dan tengah, garis pendudukan bahkan mendekati kawasan Sungai Litani yang selama ini menjadi salah satu wilayah strategis di Lebanon selatan.
Israel juga masih menguasai sejumlah wilayah Lebanon yang telah diduduki selama puluhan tahun, serta area tambahan yang direbut selama konflik 2023-2024.
Ribuan Warga Lebanon Menjadi Korban Konflik
Di balik perdebatan geopolitik dan strategi keamanan, dampak kemanusiaan konflik terus dirasakan masyarakat sipil Lebanon.
Data resmi pemerintah Lebanon menunjukkan bahwa sejak eskalasi militer besar-besaran yang dimulai pada 2 Maret, sedikitnya 3.912 orang tewas dan 11.873 lainnya mengalami luka-luka.
Lebih dari satu juta warga juga dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan dan pertempuran yang berlangsung di berbagai wilayah.
Angka tersebut mencerminkan besarnya beban yang harus ditanggung masyarakat sipil yang selama berbulan-bulan hidup di tengah ketidakpastian keamanan.
Kesepakatan AS-Iran Serukan Penghormatan terhadap Kedaulatan Lebanon
Pernyataan Netanyahu muncul hanya sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menandatangani Memorandum Islamabad secara elektronik.
Kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan tersebut bertujuan membuka jalan menuju penghentian konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Baca Juga: Araghchi Desak Penghentian Total Serangan Israel ke Lebanon, AS Diminta Tanggung Jawab
Salah satu poin utama dalam memorandum itu menyerukan penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik, termasuk Lebanon. Dokumen tersebut juga menegaskan komitmen untuk menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Implementasi awal kesepakatan mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran sebagai imbalan atas pelonggaran blokade laut Amerika Serikat terhadap Teheran.
Masa Depan Perdamaian Kawasan Masih Penuh Ketidakpastian
Meski kesepakatan diplomatik mulai berjalan, sikap keras pemerintah Israel menunjukkan bahwa jalan menuju stabilitas kawasan masih jauh dari selesai.
Netanyahu menegaskan bahwa tujuan utama negaranya tetap mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menyatakan bahwa "pertempuran belum berakhir."
Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai efektivitas kesepakatan AS-Iran dalam meredakan ketegangan regional.
Bagi warga Lebanon yang telah kehilangan anggota keluarga, rumah, dan mata pencaharian akibat perang, keberhasilan diplomasi tidak hanya diukur dari dokumen yang ditandatangani para pemimpin.
Bagi mereka, yang terpenting adalah kapan suara senjata benar-benar berhenti dan mereka dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman.
Baca Juga: Mantan PM Sebut Kesepakatan AS-Iran Bisa Dianggap Pengkhianatan oleh Israel
Konteks Historis Pendudukan Lebanon
Keberadaan militer Israel di Lebanon selatan bukan isu baru. Israel pernah menduduki sebagian wilayah Lebanon sejak invasi tahun 1982 dan mempertahankan zona keamanan hingga penarikan besar-besaran pada tahun 2000.
Namun, konflik lintas batas yang terus berulang membuat wilayah tersebut tetap menjadi salah satu titik paling sensitif di Timur Tengah. Situasi terbaru berpotensi kembali menguji hubungan antara Israel, Lebanon, Iran, dan kekuatan internasional yang berupaya menjaga stabilitas kawasan.*
Editor : Uray Ronald