PONTIANAK POST - Juru bicara Parlemen Lebanon Nabih Berri menegaskan Hezbollah akan tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata dengan Israel selama Tel Aviv mematuhi seluruh ketentuan kesepakatan secara penuh. Pernyataan itu disampaikan Kamis (18/6) waktu setempat, di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri eskalasi konflik.
Berri, yang dikenal sebagai sekutu politik Hezbollah, menyatakan posisi resmi Lebanon tetap mendukung penghentian permusuhan.
Menurutnya, komitmen tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan stabilitas regional dan membuka ruang bagi keberhasilan perundingan antara Washington dan Teheran.
Hezbollah dan Lebanon Tegaskan Dukungan pada Gencatan Senjata
Dalam pernyataan resminya, Berri menegaskan bahwa Hezbollah akan menghormati kesepakatan gencatan senjata selama Israel juga menjalankan seluruh kewajibannya.
"Pemerintah Lebanon dan Hezbollah tetap berkomitmen pada gencatan senjata selama Israel mematuhi perjanjian secara penuh dan menyeluruh," kata Berri dikutip Anadolu.
Ia menambahkan bahwa sikap tersebut bertujuan membantu menciptakan suasana yang kondusif bagi proses negosiasi Iran-Amerika Serikat yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Netanyahu Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
Memorandum AS-Iran Dorong Penghentian Konflik Regional
Perkembangan terbaru terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani secara elektronik dokumen yang dikenal sebagai Islamabad Memorandum of Understanding pada Rabu (17/6) malam.
Memorandum tersebut bertujuan mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari. Salah satu poin utama dokumen itu adalah penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
Kesepakatan tersebut juga memuat komitmen untuk menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa perjanjian final nantinya akan mengakhiri perang secara permanen di seluruh kawasan yang terdampak konflik.
Menurut isi memorandum, Washington dan Teheran akan menjalani putaran negosiasi selama 60 hari. Masa pembicaraan dapat diperpanjang apabila kedua pihak memerlukan waktu tambahan untuk mencapai kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi internasional.
Israel Masih Lanjutkan Operasi Militer di Lebanon Selatan
Di lapangan, situasi keamanan belum sepenuhnya berubah. Israel masih melancarkan serangan harian di wilayah Lebanon dan menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari sejumlah area yang saat ini diduduki di Lebanon selatan.
Posisi tersebut bertentangan dengan salah satu poin awal dalam memorandum yang menyerukan penghentian operasi militer dan penghormatan terhadap kedaulatan Lebanon.
Reporter di lapangan mencatat bahwa sebagian wilayah Lebanon selatan masih berada di bawah kendali pasukan Israel. Beberapa area telah diduduki selama puluhan tahun, sementara wilayah lainnya dikuasai setelah konflik terbaru antara kedua pihak.
Selama operasi militer terakhir, pasukan Israel dilaporkan bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Baca Juga: Trump Yakin Gencatan Senjata Penuh di Timur Tengah Segera Terwujud, Termasuk di Lebanon dan Israel
Dampak Kemanusiaan: Jutaan Kehidupan Menunggu Perdamaian
Di balik dinamika diplomasi dan perundingan politik, warga sipil Lebanon masih menjadi kelompok yang paling terdampak.
Data resmi terbaru menunjukkan ofensif besar-besaran Israel sejak 2 Maret telah menyebabkan 3.912 orang tewas dan 11.873 lainnya terluka. Konflik tersebut juga memaksa lebih dari satu juta warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Bagi banyak keluarga, gencatan senjata bukan sekadar kesepakatan politik. Perdamaian menjadi harapan untuk kembali ke rumah, membangun kehidupan yang hancur akibat perang, serta memastikan anak-anak dapat tumbuh tanpa ancaman kekerasan bersenjata.
Prospek Perdamaian Masih Bergantung pada Implementasi
Pernyataan Hezbollah melalui Nabih Berri menunjukkan adanya sinyal dukungan terhadap jalur diplomatik yang sedang ditempuh. Namun, keberhasilan gencatan senjata tetap bergantung pada kepatuhan seluruh pihak terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
Selama operasi militer masih berlangsung dan pasukan asing tetap berada di wilayah sengketa, risiko eskalasi baru belum sepenuhnya hilang. Karena itu, implementasi kesepakatan di lapangan akan menjadi ujian utama bagi masa depan perdamaian Lebanon dan stabilitas kawasan Timur Tengah.*
Editor : Uray Ronald