PONTIANAK POST – Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz melonjak ke level tertinggi sejak awal Juni setelah mulai berlakunya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Data perusahaan analitik Kpler dan MarineTraffic menunjukkan sebanyak 25 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada Kamis (19/6). Menurut laporan Antara, jumlah itu menjadi yang tertinggi dalam beberapa pekan terakhir setelah aktivitas pelayaran sempat melambat akibat konflik di kawasan.
Peningkatan lalu lintas kapal menjadi sinyal awal pulihnya salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Kesepakatan AS-Iran Mulai Berlaku
Lonjakan aktivitas pelayaran terjadi sehari setelah Memorandum Islamabad mulai berlaku pada 18 Juni.
Dokumen yang dimediasi Pakistan tersebut disepakati pada 14 Juni dan ditandatangani secara digital oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan berisi 14 poin itu memuat sejumlah langkah deeskalasi, termasuk penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade maritim Amerika Serikat terhadap Iran.
Baca Juga: Damai AS-Iran Belum Jamin Selat Hormuz Kembali Normal, Ratusan Kapal Masih Menunggu Kepastian
Jalur Energi Dunia Kembali Bergerak
Selat Hormuz menjadi perhatian pasar internasional karena merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Aktivitas pelayaran di kawasan ini sempat menurun tajam setelah dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Kini, meningkatnya jumlah kapal yang melintas menunjukkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku perdagangan terhadap keamanan jalur tersebut.
Empat Tanker Membawa Delapan Juta Barel Minyak
Berdasarkan data pelayaran, 25 kapal yang melintas pada Kamis mengangkut berbagai komoditas, mulai dari LNG, minyak mentah, produk minyak olahan, pupuk, muatan curah kering, hingga kontainer.
Sebanyak sembilan kapal di antaranya diketahui membawa muatan penuh.
Empat kapal tanker raksasa saja tercatat mengangkut sedikitnya delapan juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Tiga tanker mengangkut sekitar 6,2 juta barel minyak Arab Saudi. Lebih dari empat juta barel dikirim menuju Jepang dan Korea Selatan, sementara sekitar 2,1 juta barel yang diangkut kapal tanker Jaham belum diketahui tujuan akhirnya.
Kapal tanker Tenzan juga membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab menuju Jepang.
LNG ke Pakistan dan Pupuk ke Asia
Selain minyak mentah, kapal LNG berbendera Prancis Mraikh mengangkut 169 ribu meter kubik gas alam cair dari fasilitas Ras Laffan, Qatar, menuju Pakistan.
Sementara itu, kapal tanker Tong Lin Wan berbendera Hong Kong membawa sekitar 592 ribu barel produk minyak olahan dari Uni Emirat Arab menuju Singapura.
Dua kapal curah kering lainnya mengangkut pupuk menuju India dan China.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya penting bagi perdagangan energi, tetapi juga rantai pasok pangan dan industri di Asia.
Baca Juga: Iran dan AS Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Pelayaran Dunia
Aktivitas Pelayaran Naik Tajam
Data MarineTraffic memperlihatkan tren peningkatan aktivitas pelayaran dalam beberapa hari terakhir.
Pada 14 Juni tercatat 12 kapal melintas Selat Hormuz. Jumlah itu turun menjadi 10 kapal pada 15 Juni, kemudian meningkat menjadi 14 kapal pada 16 Juni, tujuh kapal pada 17 Juni, dan melonjak menjadi 25 kapal pada 19 Juni.
Kenaikan signifikan ini menunjukkan respons cepat pelaku industri pelayaran terhadap perkembangan diplomatik terbaru antara Washington dan Teheran.
Harapan Baru bagi Stabilitas Kawasan
Selama konflik berlangsung sejak akhir Februari, sebagian besar kapal yang melintas di kawasan tersebut tercatat berada di bawah sanksi atau dikategorikan sebagai bagian dari "shadow fleet" atau armada bayangan.
Namun, meningkatnya jumlah kapal komersial reguler setelah kesepakatan AS-Iran mulai berlaku memberi harapan baru bagi stabilitas perdagangan internasional.
Bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dan bahan baku dari Timur Tengah, kelancaran pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas harga, pasokan industri, dan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.*
Editor : Uray Ronald