PONTIANAK POST – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan baru dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.
IRGC menyatakan seluruh unsur pasukannya telah siap bergerak jika Iran kembali menjadi sasaran agresi militer.
"Jika musuh yang licik kembali berupaya memaksakan tuntutan berlebihan dan melanggar hak-hak rakyat Iran, para pejuang Korps Garda Revolusi Islam—baik di darat, laut, maupun udara, serta di seluruh ranah peperangan hibrida—siap bertindak atas instruksi sekecil apa pun dari komandan yang berani dan bijaksana," demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita IRNA.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Iran tetap mempertahankan kesiagaan militernya meski jalur diplomasi mulai dibuka.
Baca Juga: Perundingan AS-Iran di Swiss Mendadak Batal, Upaya Perdamaian Kembali Tertunda
IRGC Ancam Berikan Kekalahan Lebih Besar
Selain menegaskan kesiapan tempur, IRGC juga memperingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap Iran akan mendapat respons yang lebih keras dibandingkan sebelumnya.
Menurut pernyataan tersebut, pasukan Garda Revolusi telah memiliki pengalaman dari berbagai operasi militer dan siap memberikan balasan yang disebut sebagai "kekalahan bersejarah" bagi pihak yang menyerang.
Iran dan AS Teken Memorandum Pengakhiran Konflik
Pernyataan keras IRGC muncul hanya beberapa hari setelah Iran dan Amerika Serikat dilaporkan menandatangani memorandum yang bertujuan mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari.
Dokumen tersebut ditandatangani secara jarak jauh pada dini hari 18 Juni dan menjadi landasan awal bagi kedua negara untuk melanjutkan proses negosiasi.
Memorandum itu memberikan waktu selama 60 hari bagi Teheran dan Washington untuk mencapai kesepakatan final mengenai program nuklir Iran serta pencabutan sanksi Amerika Serikat.
Baca Juga: AS Kerahkan Jet Tempur ke Timur Tengah Usai Perundingan dengan Iran Ditunda
Selat Hormuz Masuk Agenda Kesepakatan
Selain isu nuklir dan sanksi, memorandum tersebut juga mengatur tahapan pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat serta pemulihan pelayaran Iran melalui kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Stabilitas kawasan ini menjadi perhatian internasional karena memengaruhi distribusi minyak dan gas global.
Harapan Perdamaian Masih Dibayangi Ketegangan
Meski jalur diplomasi mulai menunjukkan perkembangan, pernyataan terbaru IRGC memperlihatkan bahwa ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat masih belum sepenuhnya hilang.
Bagi masyarakat sipil di kawasan Timur Tengah, keberhasilan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat menjadi harapan untuk mengurangi risiko konflik berkepanjangan yang dapat memengaruhi keamanan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari jutaan warga.*
Editor : Uray Ronald