PONTIANAK POST- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa bumi di Venezuela semakin menghadapi tantangan akibat hujan lebat yang terus mengguyur wilayah terdampak, sehingga meningkatkan ancaman longsor dan runtuhan bangunan.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam pengarahan di Markas Besar PBB, Selasa, mengatakan kondisi cuaca yang dipengaruhi gelombang tropis membuat proses evakuasi korban menjadi semakin sulit.
"Rekan-rekan kemanusiaan kami mengatakan upaya penyelamatan yang mereka lakukan semakin rumit akibat gelombang tropis dan curah hujan lebat yang terus menerus melanda Venezuela. Kondisi ini meningkatkan risiko runtuhan bangunan lebih lanjut dan tanah longsor di daerah yang sudah terdampak," kata Dujarric.
Ia menjelaskan pemerintah Venezuela saat ini terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami bencana lanjutan, sementara PBB bersama mitra kemanusiaan memperluas penyaluran bantuan penyelamatan jiwa guna mendukung operasi yang dipimpin otoritas setempat.
Dujarric menambahkan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB melaporkan operasi pencarian dan penyelamatan internasional masih berlangsung secara penuh dengan melibatkan sekitar 50 tim penyelamat dan lebih dari 2.300 personel yang bekerja bersama otoritas nasional di tengah semakin sempitnya waktu kritis untuk menemukan korban selamat.
"Rekan-rekan kami di Kantor Koordinasi dan Urusan Kemanusiaan memberi tahu kami bahwa operasi pencarian dan penyelamatan internasional beroperasi penuh, dengan 50 tim penyelamat dan lebih dari 2.300 personel bekerja berdampingan dengan otoritas nasional seiring dengan semakin sempitnya waktu kritis untuk menyelamatkan nyawa para korban," imbuh Dujarric.
Venezuela diguncang dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada 24 Juni 2026 yang menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data resmi terbaru, bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.719 orang, melukai lebih dari 5.000 orang, serta memaksa sekitar 12.000 warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas