Universitas China Buka Jurusan Tanah Jarang, Jadi Peluang Emas bagi Putra-Putri Kalbar

Efprizan • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 10:08 WIB
Jiangxi University of Science and Technology (JXUST) membuka program sarjana Rare Earth Science and Engineering yang mempelajari seluruh rantai pasok, dari metalurgi hingga magnet. (e.jxust.edu.cn)
Jiangxi University of Science and Technology (JXUST) membuka program sarjana Rare Earth Science and Engineering yang mempelajari seluruh rantai pasok, dari metalurgi hingga magnet. (e.jxust.edu.cn)

PONTIANAK POST - China mengembangkan program sarjana khusus bidang logam tanah jarang (rare earths), sebuah langkah yang membuka peluang besar bagi generasi muda Kalimantan Barat untuk menimba ilmu di negara tersebut.

Hal itu seiring besarnya potensi logam tanah jarang (LTJ) yang dimiliki provinsi ini namun masih minim tenaga ahli di bidang tersebut.

Laporan Reuters menyebut China membangun ekosistem pendidikan dan riset tanah jarang yang terintegrasi dengan industri melalui sedikitnya 11 universitas dan perguruan tinggi serta lebih dari 40 laboratorium khusus, yang setiap tahun menerima lebih dari 500 mahasiswa pada program studi logam tanah jarang.

Setelah lulus, mahasiswa langsung terserap ke industri pengolahan tanah jarang di Baotou, Mongolia Dalam, yang menjadi pusat pengolahan logam tanah jarang terbesar di dunia.

Baca Juga: Kerja Sama Mineral Kritis RI-India Buka Peluang Kalbar Kembangkan Logam Tanah Jarang

Lulusan Masih Langka di Dunia

Reuters mengungkapkan hingga kini hampir tidak ada universitas di luar China yang membuka program sarjana khusus logam tanah jarang, sehingga negara tersebut memiliki keunggulan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang menopang industri strategisnya.

Keunggulan tersebut membuat China mampu mempertahankan dominasinya dalam rantai pasok global logam tanah jarang, mulai dari penelitian, pengolahan hingga produksi magnet yang digunakan pada kendaraan listrik, turbin angin, mesin pesawat, dan berbagai perangkat teknologi tinggi.

Mantan Chief Executive Neo Performance Materials dan Molycorp, Constantine Karayannopoulos, mengatakan lulusan universitas di China umumnya sudah siap bekerja begitu menyelesaikan pendidikan.

"Di China, saya bisa merekrut lulusan yang langsung produktif. Di tempat lain, saya harus melatih mereka hingga tiga tahun," ujarnya.

Baca Juga: Kalbar Bisa Jadi Pusat Rare Earth Nasional Setelah Perminas Gandeng Midwest Limited India

Peluang Besar bagi Kalimantan Barat

Bagi Kalimantan Barat, perkembangan tersebut menjadi peluang strategis karena daerah ini memiliki potensi logam tanah jarang yang cukup besar.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Geologi, potensi LTJ terbesar berada di Blok Melawi dengan kadar total mencapai sekitar 81.720 ppm pada kawasan seluas 54.000 hektare.

Kabupaten Ketapang juga memiliki potensi logam tanah jarang yang berkaitan dengan endapan timah dan laterit, sementara limbah pengolahan bauksit (red mud) di Kalbar menyimpan potensi logam skandium (Sc) yang bernilai tinggi untuk industri teknologi.

Namun, pengembangan potensi tersebut masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan tenaga ahli yang menguasai eksplorasi, pengolahan, hingga hilirisasi logam tanah jarang.

Baca Juga: Indonesia dan India Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Kondisi itu membuat kesempatan belajar di universitas-universitas China menjadi peluang yang layak dipertimbangkan oleh mahasiswa asal Kalbar agar ke depan daerah memiliki sumber daya manusia yang mampu mengelola kekayaan mineral strategis secara mandiri.

SDM Jadi Kunci Hilirisasi

Laporan Reuters menunjukkan keberhasilan China tidak hanya ditopang cadangan mineral, tetapi juga investasi jangka panjang pada pendidikan, penelitian, dan kolaborasi erat antara kampus dengan industri.

China kini menguasai lebih dari 90 persen produksi logam tanah jarang olahan dan magnet tanah jarang dunia berkat ekosistem riset, pendidikan, dan industri yang saling terintegrasi.

Bagi Kalimantan Barat, pembangunan sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan potensi cadangan mineral.

Baca Juga: Blok Melawi dan Boyan Hulu Jadi Prioritas Eksplorasi Logam Tanah Jarang, Sebagian Lokasi Masuk Hutan Lindung

Apabila semakin banyak putra-putri Kalbar memperoleh pendidikan di bidang logam tanah jarang dan kembali mengembangkan ilmunya di daerah, peluang lahirnya industri hilirisasi mineral strategis di Kalimantan Barat akan semakin terbuka, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Universitas Mana Saja yang Memiliki Program Tersebut?

Reuters menyebut terdapat setidaknya 11 universitas dan perguruan tinggi teknik yang memiliki program atau jalur pendidikan logam tanah jarang (rare earths), namun tidak mempublikasikan daftar lengkapnya.

Berikut beberapa institusi yang diketahui menjadi pusat pendidikan dan riset logam tanah jarang di China berdasarkan laporan Reuters dan sumber resmi universitas yang dihimpun Pontianak Post:

No Universitas/Lembaga Lokasi Keunggulan Bidang Tanah Jarang
1 Inner Mongolia University of Science and Technology (IMUST) Baotou, Mongolia Dalam Kampus paling dekat dengan kawasan industri tanah jarang terbesar di dunia; memiliki program Rare Earth Engineering dan kerja sama langsung dengan industri.
2 Jiangxi University of Science and Technology (JXUST) Ganzhou, Jiangxi Membuka program sarjana Rare Earth Science and Engineering yang mempelajari seluruh rantai pasok, dari metalurgi hingga magnet.
3 Nanchang University Nanchang, Jiangxi Memiliki Institute of Rare Earth Chemistry, salah satu pusat riset tanah jarang tertua di Jiangxi.
4 Baotou Rare Earth Research Institute (lembaga riset, bukan universitas) Baotou, Mongolia Dalam Menjadi tujuan studi lanjut dan pusat penelitian logam tanah jarang terbesar di China.
5 National Engineering Research Center for Rare Earths Beijing Pusat riset nasional yang mengembangkan teknologi pemurnian dan material tanah jarang bersama industri.

Universitas Lain yang Aktif dalam Riset Mineral Kritis dan Tanah Jarang

Walaupun Reuters tidak menyebut semuanya satu per satu, sejumlah kampus berikut juga dikenal aktif dalam penelitian mineral strategis dan teknik pertambangan yang berkaitan dengan logam tanah jarang:

Universitas Lokasi Bidang Unggulan
China University of Mining and Technology Xuzhou Teknik pertambangan dan mineral
Central South University Changsha Metalurgi dan material maju
University of Science and Technology Beijing Beijing Metalurgi dan material
Kunming University of Science and Technology Yunnan Mineral dan metalurgi
Northeastern University Shenyang Metalurgi dan material
China University of Geosciences Wuhan/Beijing Geologi dan eksplorasi mineral

Relevansi bagi Kalimantan Barat

Apabila Kalimantan Barat mulai mengembangkan industri logam tanah jarang, lulusan dari kampus-kampus tersebut berpotensi menjadi SDM yang sangat dibutuhkan untuk mengisi bidang:

Dengan potensi LTJ di Melawi, Ketapang, dan kandungan skandium pada limbah bauksit, kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi di Kalimantan Barat dengan universitas-universitas di China dapat menjadi langkah strategis untuk menyiapkan tenaga ahli yang saat ini masih sangat langka. (*)

Editor : Efprizan
Blok Melawi tanah jarang logam tanah jarang Kalbar rare earth China pendidikan pertambangan China