Jepang Temukan Unsur Tanah Jarang di Perairan Pasifik, Kurangi Ketergantungan pada China

Efprizan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 09:07 WIB
Jepang mengeksplorasi dasar laut di sekitar Pulau Minamitori untuk mengembangkan sumber unsur tanah jarang strategis. (Ilustrasi: AI/Pontianak Post)
Jepang mengeksplorasi dasar laut di sekitar Pulau Minamitori untuk mengembangkan sumber unsur tanah jarang strategis. (Ilustrasi: AI/Pontianak Post)

PONTIANAK POST - Jepang menemukan berbagai unsur tanah jarang kategori menengah dan berat di dasar laut sekitar Pulau Minamitori, Samudra Pasifik, dalam proyek pemerintah untuk memperkuat pasokan mineral strategis bagi industri teknologi tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor dari China.

Temuan tersebut diumumkan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), lembaga riset yang berafiliasi dengan pemerintah Jepang, setelah menganalisis sampel lumpur laut dalam yang diambil dari kedalaman sekitar 5.600 meter di zona ekonomi eksklusif Jepang, sebagaimana dilaporkan Kyodo.

Hasil analisis menunjukkan unsur tanah jarang kategori menengah dan berat, seperti yttrium, gadolinium, dan dysprosium, mencapai sekitar 54 persen dari total unsur yang berhasil diekstraksi dari sampel lumpur, sedangkan unsur kategori ringan seperti neodymium menyumbang sekitar 46 persen.

JAMSTEC belum mengungkapkan total volume unsur tanah jarang yang berhasil diperoleh dari sampel tersebut, namun hasil awal dinilai cukup menjanjikan untuk melanjutkan pengembangan pada tahap berikutnya.

Baca Juga: Universitas China Buka Jurusan Tanah Jarang, Jadi Peluang Emas bagi Putra-Putri Kalbar

Uji Penambangan Industri Dimulai 2027

Tim peneliti berencana melakukan uji penambangan skala penuh selama sekitar satu bulan mulai Februari 2027 sebagai langkah menuju pengembangan industri mineral laut dalam.

Dalam uji tersebut, kapal riset Chikyu ditargetkan mampu mengumpulkan sekitar 350 ton lumpur setiap hari sebelum material tersebut dibawa ke Pulau Minamitori untuk dikurangi kadar airnya dan selanjutnya dimurnikan menjadi unsur tanah jarang di pulau utama Jepang.

Pemerintah Jepang juga menargetkan evaluasi menyeluruh mengenai biaya dan manfaat proyek tersebut paling lambat Maret 2028 sebelum memutuskan pengembangan secara komersial.

Yttrium Jadi Temuan Paling Bernilai

Pemimpin proyek dari Kantor Kabinet Jepang, Shoichi Ishii, mengatakan penemuan yttrium menjadi salah satu hasil paling penting karena nilai komoditas tersebut terus meningkat di pasar global.

Baca Juga: Kerja Sama Mineral Kritis RI-India Buka Peluang Kalbar Kembangkan Logam Tanah Jarang

Menurut Shoichi Ishii, temuan itu membuka peluang baru bagi Jepang untuk memperkuat rantai pasok mineral strategis yang dibutuhkan industri berteknologi tinggi.

"Temuan yttrium sangat berharga bagi kami karena nilainya meningkat sangat pesat di pasar global," kata Shoichi Ishii dalam konferensi pers, seperti dikutip Kyodo.

Kurangi Ketergantungan pada China

Langkah Jepang mempercepat eksplorasi unsur tanah jarang tidak lepas dari upaya mendiversifikasi sumber pasokan yang selama ini didominasi China.

Hubungan diplomatik kedua negara yang memburuk, termasuk setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan respons terhadap krisis Taiwan, diikuti kebijakan China yang memperketat pengendalian ekspor barang dwiguna, termasuk unsur tanah jarang.

Baca Juga: Percepat Hilirisasi Logam Tanah Jarang Nasional, BRIN Gandeng Universiti Teknologi Petronas

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan keberadaan cadangan unsur tanah jarang berkualitas tinggi di wilayah Jepang akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu negara pemasok sekaligus meningkatkan ketahanan pasokan nasional.

"Pemerintah akan segera melanjutkan pengujian lebih lanjut untuk pengembangan pada skala industri," kata Minoru Kihara .

Keberhasilan proyek ini juga diharapkan memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri kendaraan listrik, semikonduktor, hingga peralatan pertahanan yang selama ini sangat bergantung pada unsur tanah jarang.

Meski demikian, tantangan utama masih berada pada tingginya biaya ekstraksi karena seluruh personel dan logistik harus diangkut menuju Pulau Minamitori yang berjarak sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo. (*)

Editor : Efprizan
mineral kritis tanah jarang Pulau Minamitori tanah jarang Samudra Pasifik jepang