PONTIANAK POST – Pemerintah Jepang merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun fiskal 2026 di tengah lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan biaya impor energi dinilai menekan daya beli rumah tangga sekaligus mengurangi ruang ekspansi dunia usaha.
Dalam proyeksi ekonomi tengah tahun yang dirilis Kantor Kabinet Jepang, Kamis (30/7), pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2027 diperkirakan hanya mencapai 0,9 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi Januari sebesar 1,3 persen.
Revisi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap ekonomi Jepang yang masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Konsumsi dan Belanja Modal Melambat
Pemerintah menilai lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang membebani aktivitas ekonomi.
Kenaikan biaya impor bahan bakar tidak hanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga, tetapi juga menekan profitabilitas perusahaan sehingga berdampak pada perlambatan investasi.
Akibatnya, proyeksi pertumbuhan konsumsi swasta dipangkas menjadi 0,9 persen, dari sebelumnya 1,3 persen.
Sementara itu, belanja modal perusahaan diperkirakan hanya tumbuh 2,3 persen, lebih rendah dibanding estimasi awal sebesar 2,8 persen.
Meski demikian, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali membaik menjadi 1,1 persen pada tahun fiskal berikutnya seiring pemulihan konsumsi dan meningkatnya investasi korporasi.
Inflasi Diperkirakan Meningkat
Tekanan harga diperkirakan masih berlanjut sepanjang tahun fiskal 2026.
Pemerintah menaikkan proyeksi inflasi konsumen menjadi 2,2 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 1,9 persen. Kenaikan tersebut terutama dipicu harga energi yang masih tinggi.
Meski demikian, pemerintah optimistis peningkatan pendapatan masyarakat dapat membantu menjaga daya beli.
Upah nominal diproyeksikan tumbuh rata-rata 3,1 persen per tahun hingga tahun fiskal 2027, sehingga diharapkan pertumbuhan upah riil tetap berada di wilayah positif.
Target Surplus Fiskal Dipertahankan
Di tengah perlambatan ekonomi, pemerintah tetap mempertahankan target konsolidasi fiskal.
Kantor Kabinet memperkirakan neraca primer anggaran akan kembali mencatat surplus 1,4 triliun yen, atau sekitar USD 8,6 miliar, pada tahun fiskal 2027.
Optimisme tersebut didasarkan pada ekspektasi membaiknya aktivitas ekonomi dan meningkatnya penerimaan negara dalam beberapa tahun ke depan.
Proyeksi Ekonomi Jepang
| Indikator | Proyeksi Terbaru | Proyeksi Januari |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB riil FY2026 | 0,9% | 1,3% |
| Pertumbuhan konsumsi swasta | 0,9% | 1,3% |
| Pertumbuhan belanja modal | 2,3% | 2,8% |
| Inflasi konsumen | 2,2% | 1,9% |
| Proyeksi pertumbuhan FY2027 | 1,1% | - |
| Pertumbuhan upah nominal | 3,1% | - |
| Surplus neraca primer FY2027 | 1,4 triliun yen (USD 8,6 miliar) | Tetap |
Mengapa Proyeksi Jepang Dipangkas?
- Harga energi naik akibat ketegangan Timur Tengah.
- Jepang masih bergantung pada impor energi.
- Konsumsi rumah tangga melemah.
- Belanja modal perusahaan melambat.
- Inflasi meningkat di atas proyeksi awal.