PONTIANAK POST – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding perusahaan minyak AS meraup keuntungan terlalu besar dari lonjakan harga energi setelah perang dengan Iran mengganggu pasar minyak global. Sorotan Trump terutama diarahkan kepada ExxonMobil dan Chevron yang mencatat laba gabungan hingga puluhan miliar dolar AS pada kuartal kedua.
Brent crude, yang sebelum serangan AS-Israel pada akhir Februari berada di sekitar USD 70 (Rp 1,25 juta) per barel, sempat melonjak hingga USD 126 (Rp 2,25 juta) pada akhir April. Harga tersebut kini berada di sekitar USD 85 (Rp 1,5 juta). Lonjakan itu memperbesar keuntungan produsen energi ketika konsumen masih menghadapi tingginya harga bensin.
”Saya tidak suka itu,” kata Trump terkait ExxonMobil dan Chevron yang menghasilkan terlalu banyak uang akibat kelangkaan pasokan dalam perang lawan Iran seperti dilansir dari The Guardian, kemarin (5/8).
Baca Juga: China Tolak Tarif Impor Baru Amerika Serikat, Sebut Perang Dagang Tidak Menguntungkan Siapa pun
Trump pun meminta kedua perusahaan mengembalikan sebagian keuntungan kepada masyarakat dan menurunkan harga bagi konsumen. Rata-rata harga bensin di AS mencapai USD 4,11 (Rp 73 ribu) per galon.
Trump sebelumnya menilai harga bensin semestinya sudah turun menjadi USD 2,25 (Rp 40 ribu) setelah harga minyak merosot menyusul pembicaraan damai dengan Iran pada Juni.
”Chevron dan Exxon memperoleh keuntungan dari model yang mengalihkan perhatian, sementara masyarakat biasa harus menanggung biayanya, termasuk melalui tagihan yang lebih tinggi dan dampak yang menghancurkan seperti kebakaran ini. Keuntungan tersebut terasa hampir kriminal,” kritik Clemence Dubois, direktur gerakan lingkungan internasional 350.org.
Laba Kuartalan Tertinggi
Tekanan Trump datang ketika dua perusahaan energi terbesar AS membukukan lebih dari USD 26 miliar atau sekitar Rp 467,2 triliun untuk kuartal yang berakhir Juni.
Chevron mencatat laba kuartalan USD 12,2 miliar (Rp 218,8 triliun), tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dan sekitar lima kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ExxonMobil memperoleh USD 14,5 miliar (Rp 260 triliun), dua kali lipat dari setahun sebelumnya dan menjadi laba kuartalan tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Baca Juga: Arteta Optimistis Arsenal Tambah Kekuatan, Transfer Vinicius Junior Alami Hambatan
Perusahaan Lain Kecipratan
Gelombang keuntungan itu tidak berhenti pada dua perusahaan tersebut. Beberapa jam setelah Trump melontarkan kritik, BP melaporkan laba kuartalannya melonjak dua kali lipat menjadi USD 5,7 miliar. ”Pada kenyataannya, kami memproduksi komoditas global dan harga produk yang kami jual mengikuti harga komoditas global tersebut,” kata Kepala Eksekutif BP Meg O’Neill. (din/dns)
Editor : Rafael B. Junior