PONTIANAK POST – Jerebu Sarawak, Malaysia, memburuk hingga memengaruhi aktivitas pendidikan. Sebanyak 107 sekolah di Bahagian Serian ditutup sementara sejak Rabu (12/8) setelah Indeks Pencemaran Udara (IPU) menembus 200 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Penutupan sekolah dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap murid dan warga sekolah. Kegiatan belajar tetap dilanjutkan melalui Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR).
Kondisi tersebut menjadi perhatian di Kalimantan Barat karena Serian dan Tebedu merupakan wilayah Sarawak yang berdekatan dengan perbatasan Indonesia. Namun, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan seluruh jerebu tersebut berasal dari karhutla Kalbar.
Dilansir dari Suara Sarawak, kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk dalam beberapa hari terakhir. Serian tercatat memiliki IPU 202, sedangkan Tebedu mencapai 212 dan sama-sama masuk kategori sangat tidak sehat.
Sejumlah wilayah lain seperti Kuching, Samarahan dan Sri Aman juga dilaporkan mengalami kualitas udara tidak sehat.
Kondisi ini menunjukkan persoalan jerebu tidak hanya berdampak pada jarak pandang atau aktivitas luar ruangan. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas pendidikan anak-anak ikut harus dibatasi.
Asap Lintas Batas Jadi Salah Satu Faktor
Pemerintah Sarawak dan otoritas Malaysia menyebut kemerosotan kualitas udara dipengaruhi oleh kombinasi jerebu rentas sempadan Kalimantan Barat dan kebakaran lokal.
Data titik panas juga menunjukkan terdapat aktivitas kebakaran di wilayah Sarawak sendiri. Kebakaran lokal dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, termasuk kawasan tempat pembuangan sampah dan hutan atau belukar.
Kondisi angin pada musim Monsun Barat Daya menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan asap. Jika kebakaran meningkat di wilayah selatan Borneo, potensi jerebu lintas batas dapat ikut meningkat.
Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Pemantauan satelit menunjukkan aktivitas titik panas terjadi di sejumlah wilayah Borneo. Dalam bahan pemantauan yang digunakan pemerintah Malaysia, jumlah titik panas di Kalimantan jauh lebih banyak dibandingkan Sarawak pada periode yang sama.
Namun, jumlah titik panas tidak sama dengan jumlah kebakaran atau luas lahan terbakar. Titik panas merupakan indikasi aktivitas termal yang perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan.
Indonesia: Belum Ada Laporan Negara Tetangga
Di sisi Indonesia, pemerintah menyatakan belum menerima laporan resmi mengenai negara tetangga yang terganggu asap akibat karhutla Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan pemerintah tetap berupaya agar dampak karhutla tidak meluas ke wilayah negara lain.
“Kita juga berupaya sekeras mungkin untuk tidak mengganggu pihak lain, baik ke negara tetangga yang dekat dengan kita,” kata Djamari dalam konferensi pers di Jakarta.
Menurut Djamari, hingga saat ini belum ada laporan dari negara lain mengenai gangguan asap akibat karhutla Indonesia.
“Sampai dengan hari ini tidak ada itu (pihak yang terganggu dengan asap), ya,” ujarnya.
43 Helikopter Dikerahkan
Pemerintah Indonesia mengatakan penanganan karhutla terus diperkuat melalui operasi darat dan udara. Sekitar 43 helikopter dikerahkan, dengan tambahan 10 hingga 15 pesawat fixed-wing sesuai kebutuhan.
Penanganan diprioritaskan di enam provinsi rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah prioritas karena karakteristik lahan gambut dan kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran. Pemerintah sejak awal tahun juga telah menempatkan Kalbar sebagai salah satu provinsi yang membutuhkan kesiapsiagaan khusus menghadapi karhutla.
Sarawak Belum Lakukan Pembenihan Awan
Pemerintah Sarawak belum merencanakan operasi pembenihan awan untuk mengatasi jerebu. Langkah tersebut masih dipantau karena terdapat prakiraan hujan dalam beberapa hari mendatang.
Timbalan Menteri Perancangan Bandar, Pentadbiran Tanah dan Alam Sekitar Sarawak Datuk Len Talif Salleh mengatakan perkembangan jerebu terus dipantau secara berkala oleh Lembaga Sumber Asli dan Alam Sekitar (NREB) Sarawak.
Hujan yang turun di Sarawak maupun Kalimantan Barat diharapkan dapat membantu menurunkan konsentrasi asap dan memperbaiki kualitas udara.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, dampak jerebu tidak berhenti pada batas administrasi negara. Asap bergerak mengikuti kondisi atmosfer, sementara sumber kebakaran dapat berada jauh dari wilayah yang terdampak.
Karena itu, penutupan 107 sekolah di Serian menjadi gambaran konkret bahwa kualitas udara dapat mengganggu kehidupan masyarakat lintas wilayah.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro