Karhutla Kalbar Picu Jerebu Sarawak, Ini Respons Pemerintah Malaysia

Uray Ronald • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:31 WIB
ILUSTRASI - Tim melakukan pemadaman karhutla di Kabupaten Sambas. (IST)
ILUSTRASI - Tim melakukan pemadaman karhutla di Kabupaten Sambas. (IST)

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat diduga menjadi sumber asap yang terbawa angin hingga ke Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut memperburuk jerebu di sejumlah wilayah Sarawak dan membuat kualitas udara memburuk di kawasan perbatasan.

Dilansir Utusan Borneo, Rabu (12/8), Timbalan Menteri Perancangan Bandar, Pentadbiran Tanah dan Alam Sekitar Datuk Len Talif Salleh mengatakan jerebu di Sarawak dipercayai berasal dari Kalimantan Barat, Indonesia. Asap tersebut disebut terbawa angin dari arah timur dan tenggara menuju Sarawak.

Baca Juga: Kabut Asap di Sarawak Kian Parah, Kualitas Udara di Tebedu dan Serian Sangat Tidak Sehat

Asap Karhutla Melintasi Perbatasan

Len Talif mengatakan pemerintah Sarawak terus memantau kondisi jerebu setiap jam. Pemantauan dilakukan karena sumber asap diduga berasal dari kawasan Kalimantan.

“Kita memantau keadaan setiap jam dan pada masa sama memberi nasihat kepada semua warga supaya berjaga-jaga serta mengurangkan aktiviti di luar,” katanya.

Kondisi ini menunjukkan dampak karhutla Kalbar tidak berhenti di wilayah Indonesia. Pergerakan asap dapat memengaruhi kualitas udara masyarakat di kawasan perbatasan Sarawak.

Baca Juga: 107 Sekolah di Sarawak Ditutup karena Kiriman Kabut Asap dari Indonesia dan Karhutla Lokal

Kualitas Udara Sarawak Memburuk

Dampak jerebu terlihat dari meningkatnya indeks pencemaran udara di sejumlah kawasan Sarawak. Len Talif mengatakan beberapa wilayah mencatat IPU pada tingkat tidak sehat.

Kuching mencatat IPU antara 150 hingga 175. Samarahan sekitar 174, sedangkan Tebedu di kawasan perbatasan Malaysia-Indonesia telah melewati angka 200.

“Sibu pula 151 dan Sarikei 161, manakala keadaan di bahagian utara Sarawak masih baik,” katanya.

Kondisi tersebut kemudian memburuk. Data NREB Sarawak pada pukul 16.00 menunjukkan Tebedu mencatat IPU 214 dan Serian 201, yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Akibat situasi yang dinilai membahayakan, sebanyak 107 sekolah di Serian dan enam sekolah di Tebedu ditutup sementara. Kegiatan pendidikan kemudian dialihkan melalui proses pembelajaran dari rumah.   

Karhutla Kalbar dan Dampaknya bagi Masyarakat

Jerebu lintas batas membuat persoalan karhutla Kalimantan Barat memiliki dampak kemanusiaan yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya menghadapi risiko asap di wilayah sumber kebakaran, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan dan aktivitas harian.

Di Sarawak, kondisi udara yang memburuk bahkan berdampak pada kegiatan pendidikan. 

Di Kalimantan Barat sendiri, kondisi kabut asap juga telah memengaruhi aktivitas masyarakat. Pembelajaran di sejumlah wilayah Pontianak bahkan beralih sementara ke sistem daring ketika kondisi udara memburuk.

Baca Juga: Cegah Ekspor Asap ke Negeri Jiran, Balai Dalkarhut Tingkatkan Patroli Karhutla di Perbatasan

Sarawak Belum Rencanakan Pembenihan Awan

Di tengah memburuknya jerebu, Kerajaan Sarawak belum merencanakan operasi pembenihan awan. Pemerintah setempat memilih memantau perkembangan kondisi udara sambil menunggu kemungkinan hujan.

“Setakat ini belum lagi (operasi pembenihan awan), tapi kita melihat keadaan bagaimana ia akan berubah dalam masa seminggu ini,” kata Len Talif.

Menurutnya, terdapat peluang hujan sekitar 30 persen menjelang Jumat atau Sabtu pekan ini. Hujan di Kalimantan juga diharapkan membantu mengurangi jerebu yang berdampak ke Sarawak.

Ribuan Titik Panas di Kalbar Iringi Jerebu Sarawak

Jerebu yang mencapai Sarawak memperlihatkan bahwa karhutla Kalimantan Barat dapat menimbulkan konsekuensi lintas wilayah. Asap yang terbawa angin berpotensi mengganggu kesehatan, pendidikan, dan aktivitas masyarakat di kedua sisi perbatasan.

Kondisi jerebu di Sarawak terjadi ketika jumlah titik panas di Kalimantan Barat masih tinggi. Data BMKG yang dikutip Kementerian Kehutanan menunjukkan titik panas di Kalimantan Barat pada 12 Agustus 2026 meningkat dari 98 menjadi 136 titik dibandingkan hari sebelumnya. 

Data tersebut memperkuat konteks karhutla di Kalimantan Barat yang menjadi perhatian dalam situasi jerebu lintas batas. Namun, jumlah titik panas tidak secara otomatis membuktikan seluruhnya merupakan kebakaran atau menjadi sumber asap yang mencapai Sarawak.

Hubungan antara sumber asap dan jerebu perlu dilihat bersama data sebaran asap serta arah angin. 

Pada hari yang sama, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan menyatakan akan memperkuat patroli pencegahan karhutla di wilayah perbatasan Sambas dan Bengkayang. 

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengatakan kebakaran yang tidak terkendali dapat menghasilkan asap yang berpotensi berdampak hingga negara tetangga.

“Kita harus memperkuat pencegahan di wilayah perbatasan negara. Meskipun arah angin saat ini bergerak dari tenggara ke barat dan berada di luar kendali kita, upaya pencegahan tetap harus diperkuat,” kata Yudho Shekti Mustiko.

Balai Dalkarhut kemudian mengaktifkan kembali Patroli Pengamanan Batas Negara secara terpadu. Patroli tersebut melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan pemangku kepentingan di kawasan perbatasan.*

 

Editor : Uray Ronald
Sumber : Utusan Borneo
karhutla kalimantan barat jerebu Sarawak kualitas udara Sarawak asap karhutla Kalbar pembenihan awan Sarawak