PONTIANAK POST — Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk pada pagi ini, Minggu (30/8). Kondisi tersebut terjadi ketika kabut asap dari karhutla di Kalimantan menjadi perhatian karena sebelumnya terpantau bergerak menuju wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan Barat.
Berdasarkan pembaruan Sistem Pengurusan Indeks Pencemaran Udara (APIMS) pada pukul 06.15, Serian mencatat IPU 350 atau kategori Berbahaya. Samarahan berada pada angka 288, Kuching 275, dan Sri Aman 215, seluruhnya masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Baca Juga: Jerebu Kalbar Ganggu Sarawak, Sejumlah Sekolah di Malaysia Diliburkan
Asap Karhutla Kalbar Terpantau Menyeberang ke Malaysia
Kaitan antara kabut asap Sarawak dan karhutla di Kalimantan Barat sebelumnya telah dilaporkan berdasarkan pemantauan citra satelit.
BNPB menyebut asap karhutla terpantau menyeberang ke wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan Barat pada 4 dan 6–9 Agustus 2026.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) juga dilaporkan memantau kepulan asap dari titik panas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang bergerak ke arah utara menuju Sarawak bagian barat.
Pada 30 Agustus 2026, BMKG kembali mendeteksi adanya kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat menuju Sarawak. Pemantauan ASMC menunjukkan asap sedang hingga pekat di sejumlah wilayah Kalimantan dan bagian tengah Sarawak.
ASMC pun memperingatkan adanya risiko kabut asap lintas batas di kawasan ASEAN bagian selatan di tengah kondisi yang cenderung kering dan pola angin dominan dari tenggara hingga barat daya.
Baca Juga: Asap Karhutla Kalbar Mengarah ke Sarawak, Indonesia Perkuat Koordinasi ASEAN
Serian Masuk Kategori Berbahaya
Sejumlah stasiun pemantauan kualitas udara di Kalimantan Barat dan Sarawak mencatat kondisi udara pada kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya.
Serian menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk di Sarawak berdasarkan data APIMS . IPU 350 menempatkannya pada kategori Berbahaya.
Sementara itu, Samarahan dengan IPU 288 dan Kuching dengan 275 berada pada kategori Sangat Tidak Sehat. Sri Aman juga berada pada kategori yang sama dengan angka 215.
Delapan Wilayah Berada pada Level Tidak Sehat
Selain empat wilayah tersebut, delapan kawasan lain di Sarawak berada pada kategori Tidak Sehat.
Bacaan IPU di kawasan tersebut berada pada kisaran 135 hingga 195. Hanya Limbang yang masih berada pada kategori Sedang dengan IPU 84.
Baca Juga: Karhutla Kalbar Meningkat, OMC Diperkuat Cegah Asap Lintas Batas ke Sarawak
Karhutla Kalbar Berdampak Lintas Batas
Memburuknya kualitas udara di Sarawak menunjukkan bahwa dampak kabut asap karhutla tidak hanya menjadi persoalan di wilayah yang mengalami kebakaran.
Sebelumnya, laporan mengenai asap karhutla dari Kalimantan yang bergerak menuju Sarawak juga telah muncul seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia.
Di Kalimantan Barat sendiri, penanganan karhutla terus menjadi perhatian. Data penegakan hukum Polda Kalbar yang dirilis pada 29 Agustus mencatat 57 laporan polisi, dengan 30 terlapor dan tiga tersangka, serta total areal terbakar 709,9 hektare.
Kondisi kabut asap di Sarawak terjadi di tengah masih tingginya aktivitas karhutla di Kalimantan Barat. BPBD Kalbar mencatat luas lahan yang terbakar di wilayah ini sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare.
Untuk aktivitas titik panas, BNPB melaporkan pada 29 Agustus 2026 terdapat penambahan 1.629 hotspot di Kalimantan Barat sehingga total yang terpantau mencapai 3.371 titik dalam pemantauan tersebut.
Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla di Kalimantan Barat masih tinggi ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk. Namun, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh kabut asap di Sarawak pada 30 Agustus berasal dari karhutla Kalimantan Barat.
Warga Diminta Memantau Kualitas Udara
Otoritas Malaysia meminta masyarakat di wilayah yang kualitas udaranya memburuk untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan memantau perkembangan IPU secara berkala.
Kondisi kabut asap juga perlu dipantau karena kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, kondisi cuaca, dan arah pergerakan asap.*
Editor : Uray RonaldSumber : Utusan Borneo