Kualitas Udara Sarawak Memburuk, Rumah Sakit Siaga Hadapi Lonjakan Kasus Akibat Kabut Asap

Uray Ronald • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:47 WIB
Kabut asap pekat di Kawasan Bangunan Dewan Undangan Negeri Sarawak, Kuching, Kamis (20/8).
Kabut asap pekat di Kawasan Bangunan Dewan Undangan Negeri Sarawak, Kuching, Kamis (20/8).

 

PONTIANAK POST — Rumah sakit dan klinik kerajaan di Sarawak bersiaga menghadapi kemungkinan peningkatan kasus kesehatan akibat kabut asap yang semakin memburuk.

Kondisi tersebut terjadi ketika IPU (Indeks Pencemaran Udara) Serian mencapai 350 atau kategori Berbahaya pada pagi hari. Kabut asap di Sarawak juga menjadi perhatian di tengah terdeteksinya pergerakan asap lintas batas dari Kalimantan Barat menuju Sarawak.

Kualitas Udara Sarawak Memburuk

Berdasarkan pembaruan Sistem Pengurusan Indeks Pencemaran Udara (APIMS) pada pukul 06.15, Serian mencatat IPU tertinggi dengan angka 350.

Samarahan mencatat IPU 288, Kuching 275, dan Sri Aman 215. Ketiga wilayah tersebut berada dalam kategori Sangat Tidak Sehat.

Sementara itu, delapan kawasan lain di Sarawak berada pada kategori Tidak Sehat dengan IPU antara 135 hingga 195. Hanya Limbang yang masih berada pada kategori Sedang dengan IPU 84.

Baca Juga: Kabut Asap dan Kualitas Udara di Sarawak Memburuk, Karhutla Kalbar Disorot

Asap Kalbar dan Sarawak dalam Pemantauan

Memburuknya kualitas udara Sarawak terjadi di tengah kondisi karhutla di Kalimantan Barat yang masih menjadi perhatian.

Sebelumnya, pemantauan BMKG mendeteksi kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat menuju Sarawak, Malaysia.

Kondisi tersebut memperkuat adanya dampak lintas batas dari karhutla di Kalimantan Barat. Namun, belum dapat disimpulkan seluruh kabut asap di Sarawak berasal dari Kalimantan Barat. 

Sumber polusi di setiap wilayah Sarawak tetap perlu dibaca berdasarkan data pemantauan atmosfer dan kondisi meteorologi masing-masing wilayah.

Rumah Sakit Sarawak Bersiap

Timbalan Premier Sarawak Datuk Amar Dr Sim Kui Hian mengatakan fasilitas kesehatan negeri telah diarahkan melakukan persiapan sejak awal Agustus.

Persiapan dilakukan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan masalah kesehatan akibat paparan partikel halus dalam kabut asap.

“Semua prosedur operasi standar (SOP) sudah ada dan fasilitas kesehatan kerajaan telah diarahkan untuk bersiap sedia. Sekarang kita memerlukan orang awam membantu kita dengan menjaga kesihatan mereka sendiri.”

“Jerebu boleh menyebabkan masalah pernafasan dengan cepat, jadi kita perlu bersedia,” katanya kepada Utusan Borneo saat Program PUBG Mobile di Hab Inovasi Batu Kawa, Minggu (30/8).

Baca Juga: Mengakhiri Drama Karhutla dan Kabut Asap di Kalimantan Barat dan Sarawak

Kelompok Rentan Diminta Waspada

Dr Sim mengatakan kelompok berisiko perlu melakukan pencegahan lebih awal. Kelompok tersebut mencakup lansia, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (COPD), kanker, gangguan imunitas, dan diabetes yang tidak terkendali.

Pasien dengan penyakit pernapasan juga diminta tidak menunggu sampai gejala memburuk sebelum mendapatkan perawatan atau menggunakan obat pencegahan yang telah diresepkan.

Aktivitas Luar Ruangan Dikurangi

Dr Sim mengatakan masyarakat perlu meminimalkan aktivitas luar ruangan ketika IPU melebihi 200. Masyarakat disarankan keluar hanya jika benar-benar diperlukan.

Agensi pemerintah dan pemerintah daerah juga diminta mengurangi pekerjaan luar ruangan yang tidak kritis untuk mengurangi paparan terhadap kabut asap.

Jangan Tunggu Kondisi Memburuk

Dr Sim menegaskan penanganan dampak kesehatan akibat kabut asap tidak hanya bergantung pada rumah sakit dan klinik.

Masyarakat juga perlu mengambil tanggung jawab untuk menjaga kesehatan masing-masing.

“Hospital dan klinik memang bersedia untuk membantu, tetapi orang ramai juga perlu mengambil tanggungjawab terhadap kesihatan sendiri.”

“Jangan tunggu sehingga keadaan menjadi teruk. Jika mengalami gejala yang serius, datang mendapatkan rawatan,” ujarnya.

Kabut Asap Diperkirakan Berlanjut

Dr Sim mengatakan kondisi kabut asap kemungkinan masih berlangsung selama beberapa hari.

Hujan belum tentu menyelesaikan persoalan dalam jangka panjang karena kualitas udara dapat kembali memburuk setelah hujan berhenti.

Kondisi tersebut membuat pemantauan kualitas udara dan perkembangan karhutla menjadi penting, baik di Sarawak maupun Kalimantan Barat.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Utusan Borneo
kualitas udara Sarawak kabut asap Sarawak IPU Serian 350 dampak kabut asap lintas batas karhutla kalbar