PONTIANAK POST — Ramalan Joshua Mhlakela tentang terjadinya rapture (hari pengangkatan) atau kiamat pada 23–24 September 2025 kembali disorot menjelang satu tahun kegagalannya. Pengkhotbah dan pendeta asal Afrika Selatan itu juga pernah menyatakan Piala Dunia 2026 tidak akan berlangsung karena dunia lebih dahulu dilanda kekacauan.
Kedua klaim tersebut telah terbantahkan. Tanggal yang disebut Mhlakela berlalu tanpa peristiwa yang diramalkan. Piala Dunia 2026 juga tetap digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni–19 Juli 2026.
Video lama mengenai ramalan itu kini kembali beredar di media sosial. Namun, belum ditemukan bukti kuat bahwa klaim tersebut kembali menjadi tren besar di Afrika pada September 2026. Sebagian unggahan hanya mendaur ulang video, meme, dan pemberitaan dari 2025.
Yakin Piala Dunia Tak Terjadi
Mhlakela mengaku memperoleh penglihatan spiritual bahwa Yesus akan datang pada 23 atau 24 September 2025. Dalam ramalannya, ia menyebut kehidupan di dunia akan berubah dan Piala Dunia FIFA 2026 tidak akan pernah berlangsung.
Klaim tentang Piala Dunia menjadi bagian paling mudah diuji. Turnamen empat tahunan tersebut tetap digelar dengan melibatkan 48 tim dan pertandingan di 16 kota tuan rumah.
Fakta itu memberikan bukti empiris bahwa ramalan Mhlakela keliru. Dunia tetap berjalan setelah September 2025, sedangkan kompetisi sepak bola yang disebut tidak akan terjadi telah selesai diselenggarakan.
Menurut data resmi FIFA, Piala Dunia 2026 disaksikan 6.810.966 penonton di stadion. Spanyol menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan dalam laga final di New York New Jersey Stadium, 19 Juli 2026.
Ramalan Menyebar Lewat TikTok
Ramalan Joshua Mhlakela mulai beredar melalui video dan wawancara pada pertengahan 2025. Ia mengaku menerima pesan langsung mengenai waktu terjadinya pengangkatan.
Tanggal 23–24 September dipilih karena bertepatan dengan Rosh Hashanah atau Tahun Baru Yahudi. Klaim itu kemudian menyebar luas melalui tagar #Rapture dan #RaptureTok.
Mhlakela bahkan menyatakan dirinya “satu miliar persen” yakin ramalan tersebut akan terjadi. Pernyataan itu menarik perhatian pengguna media sosial, baik yang mempercayainya maupun yang menjadikannya bahan satire.
Fenomena tersebut diberitakan Associated Press dan The Guardian pada September 2025. Tagar itu memuat ratusan ribu unggahan yang mencampurkan keyakinan, kecemasan, kritik, dan humor.
Ada yang Mengubah Rencana Hidup
Sejumlah pengguna TikTok mengunggah pengakuan telah menjual barang, meninggalkan pekerjaan, mengambil cuti, atau mengubah rencana hidup karena meyakini pengangkatan segera terjadi. Pengakuan individual tersebut tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Warganet lain merespons melalui meme dan video satir. Kontennya berkisar dari persiapan meninggalkan hewan peliharaan hingga gambaran kehidupan orang-orang yang dianggap tidak ikut terangkat.
Di balik humor itu, ramalan akhir zaman dapat memicu kecemasan nyata. Orang yang mempercayainya berisiko mengambil keputusan permanen berdasarkan klaim yang tidak ditopang bukti.
Setelah tanggal yang diramalkan berlalu, sejumlah pengguna media sosial mengungkapkan kekecewaan dan penyesalan. Ada pula kreator yang meminta maaf karena ikut menyebarkan prediksi tersebut.
Dikutip dari Revitalize Wellness Counseling, konselor kesehatan mental berlisensi Jenevra Owen menjelaskan bahwa rapture anxiety bukan diagnosis resmi. Namun, ketakutan itu dapat memicu kepanikan, kewaspadaan berlebihan, mimpi buruk, dan perilaku kompulsif, terutama pada anak-anak yang memahami ancaman secara harfiah.
Tanggal Ramalan Dipindahkan
Kegagalan pada 23–24 September 2025 tidak langsung mengakhiri ramalan tersebut. Mhlakela kemudian mengubah tanggal dengan alasan perhitungannya menggunakan kalender yang keliru.
Ia menggeser prediksi menjadi 7–8 Oktober 2025 berdasarkan kalender Julian. Jacaranda FM melaporkan perubahan tersebut setelah ramalan pertama tidak terbukti.
Tanggal kedua itu juga berlalu tanpa peristiwa yang dijanjikan. Pola mengubah penjelasan setelah ramalan gagal telah berulang dalam sejarah prediksi akhir zaman.
Perubahan tanggal membuat sebuah klaim sulit diuji secara jujur. Setiap kegagalan dapat terus dijelaskan dengan perhitungan atau penafsiran baru.
Kepercayaan Bukan Alasan Menebar Ketakutan
Kritik terhadap Mhlakela tidak ditujukan kepada keyakinan umat Kristen mengenai akhir zaman. Sorotan diarahkan pada tindakan menetapkan tanggal pasti berdasarkan pengakuan dan penglihatan pribadi.
Sejumlah pemimpin dan teolog Kristen menolak penentuan waktu kedatangan Yesus. Mereka merujuk ajaran Alkitab yang menyatakan manusia tidak mengetahui hari maupun waktunya.
Penetapan tanggal menjadi berbahaya ketika membuat seseorang meninggalkan pendidikan, pekerjaan, harta, atau tanggung jawab keluarga. Tokoh agama memiliki tanggung jawab moral agar keyakinan tidak digunakan untuk menebarkan ketakutan.
Pendeta dan apologet Kristen Lwandiso Dlokweni menegaskan bahwa iman terhadap kedatangan Kristus berbeda dari upaya menentukan tanggalnya. “Yesus memanggil kita bukan untuk meramal, melainkan bersiap,” tulisnya dalam The Gospel Coalition Africa.
Waspadai Video Lama Beredar Lagi
Video lama kerap kembali muncul tanpa keterangan waktu. Konten semacam itu dapat menimbulkan kesan seolah-olah sebuah ramalan baru saja disampaikan.
Pengguna media sosial perlu memeriksa tanggal unggahan, sumber asli, dan konteks pernyataan. Banyaknya penayangan atau komentar tidak membuktikan kebenaran suatu klaim.
Informasi juga harus dibedakan antara pernyataan tokoh, kesaksian pribadi, satire, dan laporan yang telah diverifikasi. Langkah sederhana ini dapat mencegah kecemasan sekaligus memutus penyebaran informasi menyesatkan.
Jika konten ramalan membuat seseorang ketakutan, sulit tidur, atau terdorong mengambil keputusan ekstrem, dukungan perlu segera diberikan. Keluarga, pemuka agama tepercaya, psikolog, atau tenaga kesehatan mental dapat membantu.
Ramalan Joshua Mhlakela meninggalkan pelajaran tentang cepatnya ketakutan menyebar melalui algoritma media sosial. Dua tanggal telah berlalu, sedangkan Piala Dunia yang disebut tak akan terjadi justru selesai digelar.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro