Kabut Asap Lintas Batas, Malaysia Tambah Alat Medis dan Pantau Lonjakan ISPA

Uray Ronald • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:24 WIB
Pemandangan matahari yang suram akibat jerebu di dekat Dewan Undangan Negeri Sarawak, Malaysia, beberapa waktu lalu. (Bernama)
Pemandangan matahari yang suram akibat jerebu di dekat Dewan Undangan Negeri Sarawak, Malaysia, beberapa waktu lalu. (Bernama)

 

PONTIANAK POST - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (URTI/ISPA) di Malaysia melonjak 167,21 persen menjadi 7.065 kasus pada Minggu Epidemiologi (ME) ke-36. Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak jerebu (kabut asap) terhadap kesehatan masyarakat.

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad mengatakan jumlah kasus tersebut meningkat dari 2.644 kasus pada minggu sebelumnya. Data itu dihimpun melalui pemantauan di 78 fasilitas kesehatan sentinel di seluruh negara.

Selain memantau kasus infeksi saluran pernapasan atas, KKM juga mengawasi dua penyakit lain yang berpotensi berkaitan dengan kondisi jerebu, yakni asma dan konjungtivitis.

Untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus gangguan pernapasan, KKM menambah persediaan peralatan medis di fasilitas kesehatan.

Tambahan tersebut meliputi 841 unit alat bantu pernapasan aerochamber untuk dewasa, 396 unit untuk anak-anak, serta 576 unit nebulizer.

“Menerusi Pusat Kesiapsiagaan dan Tindak Cepat Krisis (CPRC), KKM memperkukuh tindakan kesihatan awam susulan peningkatan bacaan Indeks Pencemar Udara (IPU) dan kemerosotan kualiti udara akibat pembakaran terbuka,” kata Dzulkefly dalam sesi tanya jawab di Dewan Rakyat, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Pemerintah Bantah Tolak Bantuan Malaysia, 1.813 Penerbangan Terdampak Karhutla

KKM Aktifkan Pusat Pemantauan Jerebu

Dzulkefly mengatakan KKM telah mengaktifkan Bilik Gerakan Jerebu Kebangsaan sejak 4 September. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat pemantauan dan respons kesehatan masyarakat terhadap penurunan kualitas udara.

KKM juga memberikan nasihat teknis kepada Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) dan Kementerian Pendidikan Tinggi (KPT) mengenai penundaan aktivitas luar ruangan jika Indeks Pencemar Udara (IPU) melebihi 100.

Selain itu, KKM menyarankan penutupan sekolah jika IPU melampaui 200.

Koordinasi turut dilakukan bersama Jabatan Alam Sekitar (JAS), Jabatan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia), dan Agensi Pengurusan Bencana Negara (NADMA) untuk memastikan peringatan dini serta langkah pencegahan tersampaikan kepada masyarakat.

Baca Juga: Prabowo Evaluasi Karhutla, Bantuan Malaysia Belum Dibahas

Anwar Sebut Malaysia Terus Berunding dengan Indonesia

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk berunding dengan Indonesia terkait persoalan jerebu lintas batas.

“Kita dah buat sedaya mungkin,” kata Anwar kepada wartawan setelah meresmikan peluncuran proyek Residensi Siswa Universiti Malaya, Kamis (15/10).

Pernyataan itu disampaikan untuk menanggapi anggapan bahwa pemerintah Malaysia tidak aktif menangani persoalan jerebu lintas batas.

Sebelumnya, mantan Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin menilai pemerintah terlalu lunak dalam berurusan dengan Indonesia terkait persoalan tersebut. Meski demikian, Khairy mengakui diplomasi tetap diperlukan untuk menyelesaikan masalah jerebu lintas batas.*

Editor : Uray Ronald
kasus ISPA Malaysia lonjakan ISPA Malaysia 7.065 kasus URTI jerebu Malaysia dampak kabut asap Malaysia