Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Berlomba Menyajikan Masakan Tradisional dari Alam

Administrator • Rabu, 18 September 2019 | 09:00 WIB
MEMASAK: Seorang ibu terlihat asyik memasak dalam Festival Makanan Tradisional di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, kemarin. ISTIMEWA
MEMASAK: Seorang ibu terlihat asyik memasak dalam Festival Makanan Tradisional di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, kemarin. ISTIMEWA
14-15 September; Festival Makanan Tradisional di Lanjak

Kabupaten Kapuas Hulu memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Potensi itu telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. Beragam bahan baku tersebut diolah sedemikian rupa menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang sebagai wisata kuliner.

HUTAN menyediakan sumber bahan makanan bagi masyarakat di sekitar hutan. Masyarakat di sana secara turun temurun memanfaatkan hasil hutan tersebut, berdasarkan kearifan tradisi untuk menjaga keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

Kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber bahan makanan alami dari hutan ini juga mendukung upaya perlindungan bentang alam atau landscape yang mencakup sungai dan hutan di dalamnya. Untuk mendukung tujuan tersebut, Yayasan Riak Bumi menyelenggarakan Festival Makanan Tradisional. Event yang merupakan salah satu rangkaian Festival Danau Sentarum 2019 ini dilaksanakan sepanjang 14 – 15 September di GOR Lanjak, Kecamatan Batang Lupar.

Dengan tema Makanan dari Hutan untuk Perlindungan Landscape, Festival Makanan Tradisional ini bertujuan untuk mempromosikan praktik-praktik terbaik masyarakat desa di Kabupaten Kapuas Hulu, yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dalam pemanfaatan bahan makanan dari hutan yang bersifat alami, higienis dan sehat. Festival yang dibuka Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir ini, sedikitnya diikuti oleh 23 peserta dari berbagai kelompok masyarakat dan desa di Kabupaten Kapuas Hulu.

Tidak terkecuali tim dari Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) turut serta dalam meramaikan kegiatan Festival Makanan Tradisional tersebut dengan judul Lauk Kitai Kanyau. Tim yang dipunggawai oleh Yopianus Salamat, Oktaviani, Hajijah, dan Martinah Ating ini mencoba untuk menyajikan menu Ikan Semah Pansoh dan Ikan Semah Tunu. Ikan semah pansoh berasal dari ikan semah yang masih segar dan dimasak dalam bambu kemudian dibakar. Dengan racikan bumbu khas Dayak Iban Bantang Kanyau, menu ini sangat nikmat untuk dimakan.

Sedangkan Ikan Semah Tunu adalah ikan semah yang dibakar. Sebagai makanan penutup, Tim menghidangkan minuman berupa Kolak Repo Empasa (Kolak Tepung Ubi), Ae Culin Tuak (Air Suling Tuak), dan Air Papa’ Tebu (Air Suling Tebu).

Acara Festival Makanan Tradisional ini berjalan cukup sukses. Terjadi peningkatan signifakan dari segi jumlah peserta maupun kemeriahan pengunjung Festival Makanan Tradisional ini, dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Balai Besar Tana Bentarum Arief Mahmud mengapresiasi kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu ia berpesan agar masyarakat mengurangi konsumsi makanan cepat saji, terutama yang berbahan penyedap non-alami.

“Balai Besar Tana Bentarum telah mewujudkan pelestarian dan pemanfaatan bahan-bahan alami dari sekitar kawasan hutan. (Olahan makanan) ini dikelola oleh masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan menyimpan berbagai tumbuhan lokal terutama sebagai bahan baku pewarna alam yang ramah lingkungan,” paparnya.

Sementara itu Penitia Festival Kuliner Deasy Rinayanti Pelealu mengatakan, festival kuliner ini bertujuan untuk mempromosikan praktik terbaik masyarakat setempat dalam membuat olahan makanan. Yang menariknya, mereka memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan pemanfaatan bahan baku dari hutan yang alami, higienis, dan sehat.

“Festival ini akan membuat bangga masyarakat atas makanan tradisional yang berasal dari hutan dan juga terhadap kearifan tradisi budayanya,” kata Deasy.

Setelah mendapatkan promosi, pendapatan masyarakat setempat diharapkan dia akan meningkat. Karena, menurut dia, ada identifikasi makanan khusus yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan nilainya dan dikomersialkan di masa mendatang.

Deasy menceritakan, Festival Makanan Tradisional sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini di Lanjak. Idenya dimulai mereka dari beberapa orang di Yayasan Riak Bumi, yang berkeinginan untuk kembali mengenalkan makanan-makanan tradisional yang dulu sering mereka makan sehari-hari, tapi mulai jarang disuguhkan, karena tergerus dengan makanan yang serba instan. Padahal makanan yang bersumber dari alam, hutan, sungai, dan kebun sekitar mereka, menurut dia, memiliki cita rasa dan nilai kesehatan yang baik, karena diolah dari bahan alami.

Bahan-bahan makanan yang sejak dulu mereka manfaatkan baik untuk makanan pokok seperti rebung, singkong, ubi jalar. Atau sebagai campuran makanan seperti umbut asam kecala untuk campuran makanan ikan. “Bahkan ada ulat sagu gemuk berwarna putih penuh protein dimasak dengan bumbu bumbu tradisional,” tuturnya. “Alam sebenarnya sudah menyediakan kekayaan alam yang melimpah. Tinggal bagaimanan kita semua bersama menjaga supaya alam tetap lestari, dan sumber makanan terjaga,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Riak Bumi Valentinus Heri mengatakan, sejak dahulu, potensi sumber daya alam di Kapuas Hulu ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. “Beragam bahan baku tersebut diolah sedemikian rupa menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang,” ucapnya.

Selain memiliki keunggulan khusus, makanan dari hutan, diakui dia, memiliki cita rasa dan nilai kesehatan yang baik, karena diolah dari bahan alami. Pada saat yang sama, pada zaman sekarang, diakui dia bagaimana promosi makanan instan sangat gencar, hingga ke pelosok tanah air bahkan di desa-desa terpencil.

Menurutnya, banyak sekali makanan dari luar yang menawarkan makanan cepat saji atau fast food yang bahan makanan yang kadang kala tidak jelas asalnya. Bahkan, dia menambahkan, beberapa di antaranya menggunakan bahan pewarna dan pengawet berbahaya yang tentunya ke depan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. (arf) Editor : Administrator
#Kapuas Hulu #Festival