SUDAH beberapa bulan ini harga Arwana di Kabupaten Kapuas Hulu anjlok alias turun drastic. Anjloknya Arwana ini dipicu karena negara penerima ikan ini yakni Tiongkok tidak lagi bisa untuk diekspor.
"Sudah beberapa bulan inilah harga ikan Arwana ini anjlok. Harga ikan Arwana sekarang sudah turun dengan harga Rp500 – 600 perekor.
Di China sekarang lagi krisis keuangan," kata Abang Zulkifli, kepala Bidng Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (14/11).
Pria yang karib disapa Zul ini mengatakan, selain harga ikan turun, saat ini untuk menerima ekspor ikan dari Indonesia, pihak Tiongkok memberikan standar berdasarkan ukuran.
Paling tidak untuk ukuran ikan yang diterima oleh negara tirai bamu tersebut, menurut dia, ukurannya adalah 20 sentimeter lebih.
"Kalau dulu tidak ada batasan soal ukuran untuk pengiriman ikan ke negara China, sekarang mereka membatasi ukuran ikan yang mau diekspor. Sehingga ini yang membuat pengusaha malas untuk kirim ikan ke China," ujarnya.
Zul mengatakan, sebelum anjloknya harga Arwana, harga ikan ini dulunya terbilang tinggi dengan kisaran Rp1,2 – 1,7 juta.
Namun begitu Zul mengingatkan kepada pengusaha ikan untuk tetap semangat melakukan pembudidayaan ikan purbakala tersebut.
"Tetap semangat melakukan budidaya ikan, jangan sampai pembudidaya ini merugikan diri sendiri dengan coba-coba menipu pembeli dengan menjual ikan tidak sesuai harapan.
Misalnya ketika pembeli ingin membeli ikan jenis Super Red, namun diberi ikan jenis Red Banjar, sehingga ini makin mempengaruhi jual beli ikan di Kapuas Hulu," ucapnya.
Sementara Wisnu Jaya Rantaka, koordinator Wilker PSDKP Kapuas Hulu menyampaikan bahwa turunnya harga Arwana patut digali kenapa sampai terjadi.
"Apakah mungkin ada perdagangan ilegal yang membuat harga ikan ini turun? Ataukah banyak ikan yang dibawa keluar tanpa dokumen alias diselundupkan?" ujarnya.
Wisnu mengatakan, untuk pengiriman ekspor ikan saat ini segala kepengurusannya berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan, sehingga ini pun dipastikan tidak ada masalah.
"Dari sisi pengawasan ikan Arwana ini belum dilengkapi dari Surat Angkut Jenis Ikan (SAJI) antar Provinsi. Dari lokasi pengembangbiakan ini apakah ada SAJI antar Kabupaten atau tidak," ucapnya.
Lanjut Wisnu, untuk negara penerima Arwana saat ini memang Tiongkok. Hanya saja negara tersebut tengah memperketat ekspornya dengan alasan dampak Covid-19 kemarin mengalami krisis keuangan.
"Tapi dari KKP lagi berupaya menyediakan pasar baru bukan hanya China yang menerima ekspor ikan Arwana ini," pungkasnya. (fik)
Editor : A'an