PONTIANAK POST – Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu bergerak cepat merespons fenomena kemunculan gas di tepian Sungai Kapuas, Desa Ujung Pandang, Kecamatan Bunut Hilir. Tim dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyelidikan dan pengambilan sampel.
Kepala Bagian Perekonomian, Administrasi Pembangunan, dan SDA Sekretariat Daerah Kapuas Hulu, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa kedatangan tim tersebut merupakan tindak lanjut dari surat permohonan investigasi yang diajukan Bupati Fransiskus Diaan kepada Gubernur Kalimantan Barat.
“Tim dari Badan Geologi Jakarta sudah menyelidiki langsung ke lapangan. Prosesnya dimulai dari mempelajari geologi regional hingga pengambilan sampel untuk dianalisis di laboratorium,” kata Budi.
Ketua Tim Penyelidik Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM, Andi Setiawan, menyatakan pihaknya telah melakukan pengecekan di Dusun Kubu, Desa Ujung Pandang, pada Jumat (24/4). Berdasarkan pemeriksaan awal di lokasi, gas yang merembes tersebut memiliki kandungan metana yang dominan.
Baca Juga: Warga Adat Punan Uheng Kareho Tolak Operasional PT KWI, Klaim Wilayah Hutan Adat Terancam
“Tim menyimpulkan bahwa rembesan gas tersebut mengandung sekitar 80 persen gas metana dan tidak berbahaya,” ungkap Andi.
Meski dinyatakan relatif aman, Andi mengimbau warga agar tetap menjaga jarak aman dan tidak terlalu dekat dengan titik keluarnya gas sebagai langkah antisipasi. Hingga saat ini, masyarakat diminta tetap tenang dan dapat beraktivitas seperti biasa.
Fenomena ini pertama kali dilaporkan pada 23 Maret 2026. Warga menemukan nyala api yang muncul dari permukaan pasir di tepian sungai, yang diduga berasal dari gas dalam tanah. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran terkait risiko kebakaran atau ledakan.
Sebagai langkah awal, Pemkab Kapuas Hulu telah melakukan pengamanan lokasi dengan membatasi akses masyarakat ke area rembesan. Koordinasi dengan aparat terkait juga diperketat guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Budi Prasetyo menambahkan, laporan lengkap hasil penyelidikan diperkirakan baru akan keluar satu bulan mendatang. “Kami masih menunggu hasil pengujian sampel di laboratorium untuk mendapatkan rekomendasi teknis terkait penanganan dan mitigasi risiko secara menyeluruh,” pungkasnya. (fik)
Editor : Hanif