Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Bayi Warga Nanga Tubuk Meninggal Usai Persalinan, Keluarga Pertanyakan Lambannya Pelayanan RSUD Putussibau

Taufik As • Kamis, 25 Juni 2026 | 12:50 WIB
Pasangan Suami Istri Susanto dan Petronela Susi. (TAUFIK/PONTIANAK POST)
Pasangan Suami Istri Susanto dan Petronela Susi. (TAUFIK/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Bayi yang baru lahir dari pasangan suami istri Susanto dan Petronela Susi meninggal dunia diduga akibat lambannya pelayanan dari RSUD dr Achmad Dipenogoro Putussibau pada Minggu (21/6).

Pasangan warga Desa Nanga Tubuk Kecamatan Kalis itu merasa pelayanan yang lambat dilakukan oleh pihak rumah sakit RSUD Putussibau, yang menjadi penyebab anaknya yang baru lahir meninggal dunia.

Susanto menceritakan kejadian bermula pada Jumat 19 Juni 2026 ketika istrinya masuk rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. 

Baca Juga: RSUD Putussibau Tanggung Insentif Dokter Rp3 Miliar Setahun, Keuangan BLUD Tertekan

"Sebelum ke rumah sakit, kami pergi ke salah satu klinik di Putussibau memeriksa kandungan istri dan bayinya di dalam kandungan dinyatakan sehat. Namun tetap harus menjalani proses melahirkan secara sesar di rumah sakit," katanya, Kamis (25/6). 

Susanto menceritakan saat sampai di rumah sakit, istrinya harus terkatung-katung untuk menjalani proses operasi melahirkan. 

"Dari perawat rumah sakit saat itu tidak tahu kapan istri saya harus dioperasi sehingga istri saya terkatung-katung. Padahal istri saya dalam kondisi darurat bahkan sempat keluar darah," ucapnya. 

Akhirnya pada Sabtu (20/6), kata Susanto, istrinya baru bisa masuk ruang tunggu operasi sekitar pukul 12.40 WIB. Namun operasi baru dilakukan sekitar pukul 17.00 Wib sore. 

Baca Juga: Obat RSUD Putussibau Sempat Kosong, Tersandung Utang Rp4,5 Miliar

"Setelah 15 menit menjalani operasi, anak saya tidak ada suara dan dimasukan didalam ruang NICU. dan dinyatakan meninggal pada Minggu (21/6) sekitar pukul 16.12 WIB," ujarnya. 

Sebelum meninggal, kata Susanto anaknya sempat mengalami kejang-kejang dan memerlukan obat. Namun obat yang diperlukan tidak tersedia di rumah sakit, sehingga dirinya mencari ke tempat lain.

Namun ia tidak mendapatkan obat tersebut, hingga akhirnya harus menggunakan obat milik pasien lain. "Tetapi setelah digunakan anak saya tetap meninggal," ucapnya. 

Susanto mengaku sangat kecewa dengan pelayanan rumah skakt dan tidak adanya obat di rumah sakit yang menyebabkan anak hingga meninggal. 

"Atas kejadian ini saya sangat trauma dengan pelayanan rumah sakit," tuturnya. 

Ia dan istrinya saat ini hanya bisa meratapi nasibnya karena anak pertama mereka harus meninggal diduga akibat pelayanan rumah sakit yang sangat buruk. 

Baca Juga: RSUD dr Achmad Diponegoro Putussibau Siapkan Layanan Cuci Darah untuk Pasien Gagal Ginjal

"Saya harap kejadian ini tidak terulang dengan pasien yang lain," kata dia.

Selain itu kata Susanto, hingga hari ini pihaknya masih menunggu penjelasan dari pihak rumah sakit apa sebenarnya penyebab anaknya meninggal. 

"Kita masih tunggu penjelasan dari rumah sakit. Saya sebagai orang tua saja tidak tahu apa penyebab anak saya meninggal," ujarnya. 

Sambung Susanto, untuk anaknya pun saat ini sudah dimakamkan di HTI Trans Tekudak Kalis. 

Baca Juga: Pendapatan RSUD dr. Achmad Diponegoro Putussibau Naik Signifikan pada 2025

Sementara itu Direktur RSUD Ahmad Diponegoro Putussibau Paulus Miki menyampaikan terhadap persoalan ini akan menelusuri terlebih dahulu. 

"Kita telusuri dululah masalah ini," tuturnya. (fik)

Editor : Miftahul Khair
#pelayanan rumah sakit #Kapuas Hulu #RSUD Achmad Diponegoro #bayi meninggal