Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Sinta dan Empat Orangutan Lainnya Kembali ke Rimba Betung Kerihun, Harapan Baru bagi Kelestarian Spesies Nyaris Punah di Kalimantan Barat

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 3 Juli 2026 | 22:35 WIB
PELEPASLIARAN ORANGUTAN: Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama mitra melepas lima Orangutan Kalimantan hasil rehabilitasi di Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu, Selasa (30/6). Program pelepasliaran ini bertujuan memperkuat populasi spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered) di alam liar. Foto: Istimewa
PELEPASLIARAN ORANGUTAN: Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama mitra melepas lima Orangutan Kalimantan hasil rehabilitasi di Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu, Selasa (30/6). Program pelepasliaran ini bertujuan memperkuat populasi spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered) di alam liar. Foto: Istimewa

PONTIANAK POST – Pelepasliaran orangutan Kalimantan kembali dilakukan di Taman Nasional Betung Kerihun, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Lima individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) hasil rehabilitasi akhirnya kembali ke habitat alaminya setelah dinyatakan mampu bertahan hidup secara mandiri di alam liar.

Pelepasliaran tahap ke-18 tersebut dilaksanakan pada Selasa (30/6) oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) serta Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS/SOC). Langkah ini diharapkan memperkuat populasi orangutan liar sekaligus menjaga keberlanjutan salah satu spesies endemik Pulau Borneo yang kini berstatus terancam punah.

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang berarti spesies ini menghadapi risiko sangat tinggi untuk punah di alam liar.

 Penurunan populasi terutama dipicu oleh hilangnya habitat akibat deforestasi, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan, serta perburuan dan konflik dengan manusia. IUCN memperkirakan populasi orangutan Kalimantan telah mengalami penurunan lebih dari 50 persen dalam beberapa dekade terakhir, sementara sejumlah kajian konservasi memproyeksikan tren penurunan populasi akan terus berlanjut apabila ancaman terhadap habitat tidak dapat ditekan.

Hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) yang menjadi rujukan berbagai lembaga konservasi memperkirakan populasi Orangutan Kalimantan di Pulau Borneo saat ini sekitar 57.350 individu yang tersebar di sekitar 16 juta hektare habitat, dengan kecenderungan terus menurun akibat fragmentasi hutan dan tekanan aktivitas manusia. Karena itu, pelepasliaran individu hasil rehabilitasi ke kawasan yang masih memiliki habitat layak, seperti Taman Nasional Betung Kerihun, dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat populasi liar sekaligus menjaga keberlanjutan spesies di habitat alaminya.

Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan

Lima orangutan yang dilepasliarkan terdiri atas satu jantan dan empat betina, yakni Benazir (14 tahun), Jamilah (25 tahun) bersama anaknya Ulin (1 tahun), serta Sinta (13 tahun) bersama anaknya Sabine (2 tahun).

Sebelum kembali ke habitat alami, kelima orangutan menjalani rehabilitasi intensif di Sekolah Hutan Jerora. Mereka juga melewati pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan karantina pra-pelepasliaran selama satu bulan untuk memastikan kesiapan fisik maupun perilaku.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria, mengatakan pelepasliaran ini merupakan hasil dari proses rehabilitasi yang panjang dan penuh komitmen.

"Kembalinya lima individu orangutan ini ke habitat alami mereka di TN Betung Kerihun bukan sekadar akhir dari masa rehabilitasi, melainkan sebuah awal baru bagi penguatan populasi Orangutan Kalimantan di alam liar," katanya.

Tiga Bulan Pertama Menjadi Masa Penentuan

Meski telah kembali ke hutan, perjalanan kelima orangutan belum berakhir. Tim gabungan akan melakukan pemantauan intensif selama tiga bulan untuk memastikan seluruh individu mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pemantauan meliputi kemampuan mencari pakan alami, membangun sarang, menghindari ancaman di habitat liar, hingga hidup mandiri tanpa ketergantungan pada manusia.

Menurut para ahli primata, masa pemantauan pasca-pelepasliaran merupakan salah satu tahapan paling krusial dalam program rehabilitasi orangutan. Ketua IUCN SSC Primate Specialist Group Section on Great Apes, Serge Wich, menjelaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran tidak hanya ditentukan oleh proses rehabilitasi, tetapi juga kemampuan individu bertahan hidup setelah kembali ke hutan.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan orangutan mampu mencari pakan alami, membuat sarang setiap hari, menghindari predator maupun konflik dengan manusia, serta berinteraksi secara normal dengan orangutan liar di habitatnya. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar evaluasi keberhasilan program konservasi sekaligus acuan untuk memperbaiki prosedur pelepasliaran pada masa mendatang. (iucn.org, orangutans-sos.org)

Senada dengan itu, Forum Orangutan Indonesia (FORINA) menjelaskan bahwa pemantauan rutin menggunakan radio telemetry, pengamatan langsung (direct observation), serta pencatatan perilaku harian bertujuan memastikan individu yang dilepasliarkan benar-benar mandiri di alam.

Indikator keberhasilan meliputi kemampuan memperoleh pakan secara alami, menjaga kondisi kesehatan, membangun sarang, mempertahankan wilayah jelajah, hingga—dalam jangka panjang—berhasil berkembang biak. Bagi induk yang dilepasliarkan bersama anaknya, pemantauan juga dilakukan untuk memastikan proses pengasuhan berlangsung normal sehingga peluang terbentuknya generasi baru di alam liar semakin besar.

Betung Kerihun Menjadi Rumah Aman Orangutan

Kepala BBTNBKDS, Titik Wurdiningsih, berharap pelepasliaran tersebut menjadi langkah nyata menjaga keberlangsungan Orangutan Kalimantan di habitat aslinya.

Menurutnya, kawasan Camp Mentibat di Resor PTN Nanga Hovat juga memiliki potensi dikembangkan sebagai pusat riset, pendidikan konservasi, sekaligus destinasi wisata berbasis alam.

Selain menjadi lokasi penelitian orangutan, kawasan tersebut menawarkan bentang alam yang masih terjaga dan berpotensi dikembangkan sebagai wisata minat khusus, termasuk kegiatan arung jeram.

Taman Nasional Betung Kerihun merupakan salah satu kawasan konservasi terluas di Indonesia dengan luas 816.693,40 hektare. Kawasan yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ini memiliki delapan tipe ekosistem hutan hujan tropis yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa dilindungi, termasuk Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), beruang madu, owa Müller, dan burung enggang.

Bersama kawasan di sekitarnya, Betung Kerihun juga menjadi bagian dari Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum Kapuas Hulu yang diakui dalam program UNESCO Man and the Biosphere (MAB) sejak 2018 karena memiliki nilai keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis yang tinggi. Adapun Taman Nasional Betung Kerihun sendiri masih berstatus Tentative List untuk nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO melalui usulan "Transborder Rainforest Heritage of Borneo", sehingga belum berstatus sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pelepasliaran lima individu pada tahap ke-18 ini turut menambah capaian program konservasi yang dijalankan Kementerian Kehutanan bersama mitra. Sejak kerja sama dimulai pada 2017 hingga pelepasliaran terbaru pada 30 Juni 2026, sebanyak 44 individu orangutan telah dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, terdiri atas 39 individu yang dilepasliarkan hingga akhir 2025 dan lima individu pada tahap ke-18 tahun 2026.

Harapan Baru bagi Spesies yang Terancam Punah

Pelepasliaran lima orangutan ini menambah daftar keberhasilan program konservasi di Kalimantan Barat yang menjadi salah satu benteng terakhir habitat Orangutan Kalimantan.

Keberhasilan tersebut tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang kembali ke hutan, tetapi juga dari peluang lahirnya generasi baru di alam liar. Kehadiran induk bersama anaknya dalam pelepasliaran kali ini menjadi simbol bahwa upaya penyelamatan satwa dapat berlanjut menjadi pemulihan populasi secara alami.

Di tengah ancaman kehilangan habitat, fragmentasi hutan, dan konflik dengan manusia, setiap individu yang kembali ke rimba menjadi harapan baru bagi keberlangsungan spesies yang hanya ditemukan di Pulau Borneo. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#rehabilitasi orangutan #orangutan kalimantan #Kapuas Hulu #Taman Nasional Betung Kerihun #BKSDA Kalimantan Barat