PONTIANAK POST - Robo-robo merupakan upacara tolak bala, tradisi ini digelar pada hari bertepatan hari jatuhnya pekan terakhir bulan Safar, Hijriah yang kerap berpusat di Kabupaten Mempawah, Kalbar.
Namun sejak beberapa tahun terakhir, Robo-robo juga digelar oleh masyarakat di wilayah lain seperti di Kabupaten Kapuas Hulu.
Hal ini juga dilakukan oleh warga Kelurahan Kedamin Hilir Kecamatan Putussibau Selatan. Dimana warganya semangat melestarikan budaya Robo-robo dengan mengelar doa dan makan bersama.
Baca Juga: Robo-Robo 2026 Mempawah Kian Semarak, 1000 Ketupat Disaprahkan di Waterfront
Muhlis Tokoh Agama Kelurahan Hilir Kantor Kecamatan Putussibau Selatan mengatakan sejumlah masyarakat menggelar tradisi Robo–robo dengan makan dan doa bersama.
“Tradisi ini pun menjadi penguat silaturahmi dan refleksi diri masyarakat untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Muhlis Rabu (12/3).
Muhlis menyebut dengan adanya momen keakraban ini, menjadi wadah silaturahmi masyarakat yang saat ini sibuk dengan aktivitas masing – masing, selain itu mengenalkan kepada generasi muda terkait adanya tradisi Robo–robo ini.
“Antusias masyarakat cukup tinggi dan ini menjadi jembatan kepada generasi muda agar dapat melestarikan kelak,” ujarnya.
Baca Juga: Robo-Robo 2026, Ziarah ke Makam Opu Daeng Menambon Jadi Pengingat Sejarah Mempawah
Lanjut Muhlis, kegiatan seperti itu memiliki nilai manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga terkandung nilai-nilai budaya, keakraban, semangat dan kebersamaan.
"Mudah-mudahan warga bersama aparatur kelurahan maupun kecamatan bisa saling mendukung dalam kegiatan positif seperti ini," katanya.
Sementara itu warga Kedamin Hilir Santi menjelaskan dirinya bersama warga lain antusias membuat sejumlah makanan untuk dihadirkan dalam tradisi Robo–robo ini,bersama ibu–ibu lain di kelurahan tersebut.
"Kami menyiapkan sejumlah makanan sehari sebelum selain makanan kami juga membawa kue–kue ringan yang dimakan bersama,” jelasnya.
Selain meminta doa keselamatan kata Santi, momen ini juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bersilaturahmi dan berbagi.
"Selain doa tolak bala, tradisi ini juga mencakup makan bersama atau saprahan. Ada berbagai macam makanan yang disediakan, " pungkasnya. (fik)
Editor : Miftahul Khair