200 KK di Batu Tiga Kapuas Hulu Hadapi Krisis Akses Saat Kemarau, Sungai dan Jalan Sulit Dilalui

Taufik As • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 12:22 WIB
Kepala Desa Batu Tiga, Susan.
Kepala Desa Batu Tiga, Susan.

PONTIANAK POST - Kondisi memprihatinkan dialami sekitar 200 kepala keluarga (KK) di Desa Batu Tiga, Kecamatan Bunut Hulu, setiap musim kemarau tiba. Dua akses utama desa, yakni jalur sungai dan darat, sama-sama sulit diandalkan.

Kepala Desa Batu Tiga, Susan, mengatakan debit Sungai Mentebah turun drastis saat kemarau sehingga perahu motor tidak dapat melintas. Akibatnya, distribusi kebutuhan pokok, BBM, gas, hingga obat-obatan terhenti.

“Distribusi sembako, BBM, gas, hingga obat-obatan terhenti. Warga tidak bisa berbuat apa-apa ketika sungai kering,” ujar Susan, Jumat (18/9).

Baca Juga: Pembangunan Kantor Imigrasi Putussibau Tahap Dua Mulai Dikerjakan, Telan APBN Rp19 Miliar

Persoalan semakin berat karena kondisi jalan darat juga rusak parah. Jalan penghubung Nanga Dua-Batu Tiga sepanjang sekitar 18 kilometer membutuhkan waktu 4 hingga 5 jam untuk dilalui dengan berjalan kaki.

Menurut Susan, buruknya akses membuat harga kebutuhan pokok melonjak saat kemarau. Pada kemarau sebelumnya, warga bahkan sempat berebut beras karena terjadi krisis pasokan.

Desa sebelumnya pernah mendapat pembangunan jembatan pada 2017, tetapi tidak dilanjutkan dengan perawatan. Karena kondisi semakin parah, pemerintah desa bersama masyarakat kini melakukan perbaikan secara swadaya, termasuk membangun jembatan agar beras dan kebutuhan pokok dapat masuk.

“Kami di tengah krisis anggaran tidak mengharapkan harus aspal. Yang penting bisa dilewati oleh motor. Itu saja sudah cukup bagi kami,” kata Susan.

Pemerintah desa disebutnya berencana menemui bupati dan pemerintah terkait untuk meminta perhatian terhadap akses infrastruktur Batu Tiga. (fik)

Editor : Hanif
Desa Batu Tiga Krisis Kemarau Kapuas Hulu akses transportasi infrastruktur jalan