Apresiasi Kopi Liberica Dapat Tumbuh Subur di Kabupaten Ini
Kopi liberica Kayong Utara menjadi sorotan. Pasalnya telah beberapa kali menyabet prestasi dan mengukir sejarah untuk Kalimantan Barat bahkan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, seorang pengusaha kopi dari Jakarta seperti Steve Hidayat sampai jatuh cinta dengan kopi Kayong Utara sejak 2021 lalu.
DANANG PRASETYO, Sukadana
STEVE Hidayat dari PT. Selera Indah Perdana Jakarta beberapa waktu lalu berkesempatan menyambangi perkebunan kopi liberica di Desa Podorukun, Kecamatan Seponti, bersama sejumlah rombongan.
Awalnya Steve mengenal kopi liberica Kayong Utara dari Gusti Iwan Darmawan, founder Kojal Coffee Plantation. hingga akhirnya ia tertarik bersama untuk mengembangkannya.
"Bapak Iwan memberikan izin kepada saya untuk membeli biji kopi. Selanjutnya Bapak Iwan menjelaskan situasi dan cita-cita dari petani kopi Kayong Utara ternyata memiliki potensi begitu istimewa," terang Steve, belum lama ini.
Steve menjelaskan bahwa untuk kopi yang tumbuh subur di Desa Podorukun ini sangat perlu diperhatikan, agar ke depan dapat lebih baik. Terlebih belum lama ini, kopi tersebut berhasil meraih rekor MURI pada September 2021 lalu, dan memperoleh peringkat pertama pertama World Coffee Challenge 2022 kategori Alternativo (Otros), yang mana penilaian cita rasa kopi tersebut, dilakukan selama event Pameran International Termatalia 2022, di Ourense, Spanyol.
"Pada awalnya memang kopi Liberica Kayong Utara belum sempurna diolah. Tetapi dari segi pengamatan saya, kopi liberica Kayong Utara mempunyai potensi yang sangat istimewa. Karena terus bersama memperbaiki pembentukan cita rasa dan kualitas lebih baik. Tali persahabatan antara saya dan Iwan otomatis semakin kuat. Sehingga usaha membuahkan banyak keberhasilan termasuk rekor MURI dan juara pertama di The World Coffee Challenge 2022," ungkapnya.
Diceritakan Steve, pada 24 Februari lalu, dirinya berkesempatan berkunjung ke kebun kopi milik warga bersama rombongan. Saat di lokasi, ia mengaku terkesan dengan pertumbuhan kopi yang selama ini dirawat oleh masyarakat hingga proses penyambutan di lokasi. Dia juga sangat terkesan atas kehangatan penyambutan dari para petani, masyarakat, dan pejabat daerah Kabupaten Kayong Utara.
"Saya terus mengamati dan merekam setiap detik dari perjalanan ke Kayong Utara. Terus mendengarkan cerita dan keinginan dari perwakilan beberapa pemangku kepentingan di Kayong Utara," jelas dia.
Saat di lokasi perkebunan kopi, dirinya banyak mendapatkan pengalaman baru di antaranya kebun kopi yang tumbuh subur sejak puluhan tahun ini.
"Saya sangat fokus dalam mengamati kebun kopi yang merupakan sumber dari keberhasilan awal yang didapat selama ini. Saya mendapatkan banyak catatan, pengalaman dan kebahagiaan dari kunjungan. Termasuk di bidang perkebunan, kualitas hubungan, infrastruktur, dan budaya daerah dari Kayong Utara," tambahnya.
Mengenai perkembangan kopi ini, ke depan dirinya berpesan kepada pemerintah setempat agar dapat bersama-sama dalam mengembangkan kopi tersebut. Sebab ia yakin dari kopi ini, ke depan Kayong Utara akan terus memperoleh juara.
"Saya berharap kepada para pemangku kepentingan di Kayong Utara dapat terus memperkuat tali komunikasi dan hubungan antara sesama. Karena untuk masa depan kopi Kayong Utara, sangat dibutuhkan semangat dan usaha gotong royong yang tinggi. Steve yakin ke depannya bahwa Kayong Utara akan terus mendapatkan juara, keberhasilan setelah dua juara yang dimiliki saat ini," pesannya.
Dia mengutip apa yang pernah diungkapkan Bupati Kayong Utara Citra Duani, di mana saat ini Kayong Utara memiliki dua juara, juara dunia tinju yakni Daud Yordan, dan juara dunia kopi liberica, Steve Hidayat. Menariknya, kedua juara sempat dipertemukan di malam bergendang di Pantai Pulau Datok Sukadana saat itu.
"Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati Citra Duani, Bapak Duta Besar Prayono Atiyanto, Bapak Direktur Amerika dua Daryanto Harsono, Bapak Gusti Iwan Darmawan," ungkapnya. Bahkan dalam kesempatan ini Steve sedikit berpantun usai berkunjung di Kayong Utara atas kekagumannya dirinya terhadap budaya hingga citarasa kopinya.
"Tepung kopi dijadikan cemilan, untuk dibawa ke Jakarta, dari awal kita berteman meski berpisah tetaplah bersahabat," ulasnya. (*) Editor : Misbahul Munir S