"Bagian pondasi yang hancur dan sudah retak. Pondasi (jembatan) ini kan ada dua sisi, jadi yang diperbaiki hanya satu sisi, yang satu sisinya lagi belum ada perbaikan dari pertama di bangun," katanya.
Padahal, diakui Indra, jembatan gantung tersebut menjadi urat nadi masyarakat di Desa Durian sebatang, umumnya masyarakat Kecamatan Durian Sebatang.
"Jembatan ini memiliki akses dari Dusun Wonodadi, Sumber Jaya, dan Sumber Baru menuju ke Dusun Punai Jaya. Itu akses (jembatan) perekonomian masyarakat Durian Sebatang. Semua aktivitas masyarakat termasuk anak-anak sekolah melalui jembatan tersebut," katanya.
Sebelumnya, diceritakan Indra masyarakat terpaksa menyeberang antar dusun menggunakan perahu atau motor air penyeberangan, dengan mengeluarkan biaya Rp5 ribu – Rp10 ribu. Ia mewakili masyarakat setempat berharap pemerintah dapat segera melakukan tindakan perbaikan, agar jangan sampai kerusakan yang ada semakin parah, karena kerusakan tersebut berada di pondasi bangunan jembatan gantung.
"Keluhan dari masyarakat, pembangunan jembatan gantung di Desa Durian sebatang ini terkesan sembarangan dan asal jadi saja. Padahal anggaran di proyek ini sangatlah besar tetapi pembangunannya tidak maksimal. pondasi yang tidak kuat membuat masyarakat khawatir untuk melintasi jembatan tersebut," ungkapnya.
Diketahui jembatan gantung tersebut hanya digunakan untuk pejalan kaki dan roda dua, sementara kendaraan tosa maupun mobil tidak menggunakan akses tersebut. (dan) Editor : Misbahul Munir S