TELUK BATANG - Maraknya penambangan tanah kuning (Galian C) di Gunung Tujuh, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara membuat sebagian besar masyarakat di daerah tersebut menjadi resah.
Masyarakat menilai aktivitas tersebut mengancam sumber air bersih bagi masyarakat di dua desa, khususnya di Desa Alur Bandung yang cukup minim ketersediaan air bersihnya.
"Saya harapkan Dinas Lingkungan Hidup menertibkan itu. Bila perlu dihukum dan ditangkap orangnya. Walaupun dia menganggap itu tanah dia, tetapi itukan lingkungan yang dilindungi," beber salah seorang warga Desa Alur Bandung enggan disebutkan namanya, Sabtu (30/9).
Dia menyebut, masyarakat mempertanyakan izin dari para penambag tersebut. "Tetapi karna mereka pegang surat, jadi kitapun tidak bisa apa-apa. Meskipun kita tidak pernah melihat suratnya, dan kita tidak ada hak untuk memeriksa mereka. Kita berkoar-koarpun percuama, jika instansi berwenang tidak turun," sebutnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa pihaknya juga sudah berulang kali menyuarakan hal tersebut kepada pihak berwenang.
Bahkan berulang kali digelar rapat di Desa Alur Bandung terkait hal tersebut, lantaran persediaan air bersih semakin berkurang.
"Ya inikan nampak, berkurang air nya, dia (penambang) naik ke atas gunung, dicedok dia. Bagaimana kita tidak meradang airnya digitukan. Pohon yang besar-besar aja ditebang mereka, itu tanah digali lagi keluar dan sampai ke atas (bukit)," paparnya.
"Warga banyak yang ambil air bersih ke situ karena paling jernih. Sumber air minum kita ada di situ, maka kita harus lindungi, dan Galian C harus dihentikan," sambungnya.
Ia lanjut menceritakan bahwa, yang ia ketahui pihak desa Alur Bandung tidak menerima manfaat apapun dari pekerjaan tersebut.
Malahan desa dirugikan oleh aktivitas tersebut, yang mana jalan masyarakat yang juga digunakan para penambang untuk mengangkut material tanah, mengalami kerusakan yang cukup serius.
"Kepala desa sendiri juga bilang, untuk desa ini tidak ada apa-apa ( inkam ), tapi dia malah merusak jalan kita, mobil tiap hari keluar ngangkut (tanah), satu sen pun ke desa tidak ada, Kita harus laporkan ke lingkungan hidup, (Dinas LH) , bila perlu ramai-ramai kita masyarakat, tapi kita tidak berani, kalian sendiri ( peserta rapat ) yang merasakan pentingnya air bersih ini ,kan diam saja," terangnya. (dan)
Editor : A'an