PONTIANAK POST – Pemerintah Kabupaten Kayong Utara memperkuat upaya mitigasi bencana hidrometeorologi dalam menghadapi puncak musim hujan akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Langkah ini diambil guna melindungi keselamatan masyarakat dari potensi bencana yang dapat terjadi akibat cuaca ekstrem.
Wakil Bupati Kayong Utara, Amru Chanwari, menunjukkan komitmennya dengan ikut serta dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Bupati, Sukadana, Senin (29/12).
Rapat koordinasi ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat mitigasi bencana, khususnya di wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi basah. Kegiatan ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan dihadiri oleh kementerian serta lembaga terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BNPB, serta kepala daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dari seluruh Indonesia.
Wakil Bupati Kayong Utara, Amru Chanwari, dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang meningkatkan potensi bencana di wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Kayong Utara.
"Siaga bencana hidrometeorologi menjadi perhatian serius, mengingat secara umum kondisi di Indonesia hingga Februari mendatang sangat rentan terhadap berbagai potensi bencana. Oleh karena itu, daerah diminta untuk mempersiapkan diri apabila bencana terjadi," kata Amru.
Pemerintah daerah juga diarahkan untuk melakukan langkah-langkah antisipatif guna mencegah bencana hidrometeorologi basah, salah satunya dengan membersihkan saluran-saluran air untuk menghindari genangan yang dapat menyebabkan banjir.
Secara geografis, Kabupaten Kayong Utara memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Sebagian besar wilayahnya adalah kawasan pesisir dan kepulauan yang rentan terhadap banjir rob akibat pasang air laut. Selain itu, daerah pedalaman juga berisiko mengalami banjir akibat tingginya curah hujan.
"Ancaman yang dihadapi Kayong Utara bukan hanya banjir akibat hujan lebat, tetapi juga banjir rob karena pasang air laut. Kedua kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah," jelas Amru.
Dalam rapat koordinasi tersebut, juga dibahas aspek teknis terkait penanganan bencana, termasuk mekanisme penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT). Pemerintah daerah diminta untuk berpedoman pada regulasi dari Kementerian Dalam Negeri agar penanganan bencana dapat berjalan efektif dan akuntabel.
Amru juga mengimbau masyarakat, terutama nelayan yang rentan terhadap dampak gelombang tinggi dan angin kencang, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. "Kami imbau masyarakat untuk berhati-hati, terutama nelayan yang paling rentan terdampak gelombang tinggi dan angin kencang. Selain itu, masyarakat di kawasan dataran rendah yang berisiko banjir juga perlu mempersiapkan diri," tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya persiapan untuk menyelamatkan harta benda dan ternak, agar kerugian yang dialami saat bencana terjadi dapat diminimalkan.
"Hal-hal yang perlu diantisipasi antara lain upaya penyelamatan harta benda hingga ternak. Dengan persiapan yang baik, kami harap kerugian yang dialami masyarakat tidak begitu besar," tutup Amru. (dan)
Editor : Hanif